CDL : Kekuasaan dan Premanisme

oleh -751,700 views
oleh

Lembang – Tatkala membahas kekuasaan dan premanisme kembali teringat tulisan Pramudya Anantatoer yang berjudul Arok Dedes, yang menggambarkan kisah perebutan kekuasaan zaman Tunggul Ametung akuwu Tumapel dan lahirnya kerajaan Singo Sari.

Cara cara perolehan kekuasaan digambarkan antara perjuangan, pemberontakan, penghianatan hingga kutukkan. Kekuasaan menjadi idola bahkan mimpi semua orang karena dapat secara dominan dilegalkan untuk mendominasi pengelolaan sumber daya.

Kuasa tanpa membangun peradaban bagi meningkatnya kualitas hidup rakyatnya sama saja kuasa cara paksa atau kuasa ala premanisme. Kuasa tanpa guna bagi semakin manusiawinya manusia mungkin semacam kuasa kutukan karena sarat tipu daya. Di dalam kisah Ken Arok untuk berkuasa dalam novel Arok Dedes digambarkan dengan berbagai simbol sebagaimana cerita dari mulut ke mulut hingga melegenda, hubungan Ken Arok dengan empu Gandring yang sakti mandra guna dan juga Kebo Ijo yang dijadikan tumbal tipu daya Ken Arok.

Tipu daya dan kisah perebutan kuasa kaitan korban dimulai dari ketidakpuasan Ken Arok yang menikam Empu Gandring dengan keris pesanan Ken Arok, yang konon katanya muncul kutukan Empu Gandring hingga tujuh korban secara bergantian dalam suatu balas dendam.

Kuasa ala premanisme mungkin saja masih mengalir di era sekarang ini. Apakah masih menjadi kutukan atau takdir sehingga suatu bangsa akan terus kacau ruwet karena kutukan empu gandring atau empu gondrong atau empu gandrung entahlah.

Mungkin itu parodi kesesakan kaum lemah yang hanya sebatas bisa grundelan saja. Ternyata apa nyatanya premanisme selalu saja diagung agungkan bahkan dijadikan pemenangnya sehingga dapat dengan sewenang wenang berbagi kuasa. Para preman di era digital mereka memberdayakan media sebagai bagian strategi post truth melalui berbagai hoaks nya, apalagi dengan menggunakan primordialisme sebagai sarana pembenaran untuk mendapatkan legitimasi dan solidaritas.

Berbagai parodi plesetan banyak dilakukan sebagai wujud protes dan grundelan atau silent fight yang direfleksikan untuk mengkritik suksesi kepemimpinan di mana saja di berbagai lini birokrasi.

Singkatnya senantiasa dijadikan pasar yang ditandai tawar menawar : “wani piro atau oleh piro” yang vulgarnya atau dengan cara terselubung dengan berbagai dalih sarat pamrih ” maju tak gentar membela yang membayar.

Janji manis bagi kemajuan bangsa ini mungkin sudah puluhan tahun dilantunkan namun lidah tak bertulang janji tinggal janji. Bagi yang berupaya waras dan care atau memperbaiki atau mengingatkan agar jangan lupa jiwa dan jumawa biasanya akan dianggap melawan atau dilabel tidak loyal bahkan dapat dikata sebagai penghianat. Resikonya sangat besar, yaitu dapat dijadikan tumbal atau dimatikan karakternya sehingga berdampak akan mati atau susahnya bagi hidup dan kehidupannya.

Kondisi aman dan nyaman akan terus diupayakan mati matian dengan cara apapun termasuk ala premanisme. Segala cara dapat dihalalkan untuk digunakan sebagai kedok dan tameng pembenaran.

Menjadi waras sekarang ini justru menjadi aneh dan dianggap slilit atau klilip yang harus dibuang jauh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.