LEMBANG – Sespim Lemdiklat Polri menggelar Dialog Kebangsaan dengan tema “Nasionalisme Kebangsaan, dibuka oleh Kasespim Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwi Laksana, M.Si yang diwakili oleh Kabag Jarlat Sespimmen Polri, Kombes Pol. Fauzi Bakti Mochji, S.H, bertempat di Gedung Utaryo Suryawinata, Senin (05/02/2024).
Acara Dialog Kebangsaan tersebut, diikuti oleh seluruh Peserta didik (Serdik) Sespimti Dikreg 33 dan Sespimmen Dikreg 64, yang terdiri dari Anggota Polri 268 orang, perwakilan Serdik TNI 24 orang dan dari Mancanegara 3 orang, menghadirkan Tamu Narasumber Raffi Ahmad.
Kasespim Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwi Laksana, M.Si, Dalam sambutannya, melalui Kabag Jarlat, Kombes Pol. Fauzi Bakti Mochji, S.H menyampaikan, ” Agar seluruh Serdik diharapkan menyimak secara seksama dan dapat mengambil manfaat dari materi yang disampaikan oleh Tamu Narasumber Raffi Ahmad sehingga memiliki pemahaman yang komprehensif “, ujarnya.
Usai membacakan kata sambutan tertulis dari Kasespim Lemdiklat Polri, Irjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwi Laksana, M.Si, kegiatan Dialog Kebangsaan dilanjutkan dengan paparan materi yang disampaikan oleh Raffi Ahmad.
Nasionalisme sangat diperlukan untuk kelangsungan suatu Negara, dengan harapan memunculkan rasa persatuan didalam Negara tersebut. Sejalan dengan itu, Nasionalisme menurut amanat Kapolri yaitu memupuk Sense Of Crisis yang bertujuan untuk peningkatan International Trust melalui kegiatan Cooling System berbekal Kebhinekaan menuju peradaban dalam bingkai Indonesia Sentris.
Dikatakan juga oleh Raffi Ahmad, bahwa anak muda saat ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Apa itu ?
“ Kelebihan anak muda saat ini adalah Aktualisasi. Yang mana keinginan individual untuk memenuhi kebutuhan diri. Termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk mengembangkan bakat, kreatifitas, keterampilan dan kecerdasan. Sedangkan kekurangannya adalah Validasi, yang mana merasa perlu untuk mendapatkan pengakuan atau pujian atau label dari seseorang dan akhirnya merasa puas dengan dirinya sendiri ,” ungkap Raffi Ahmad.
Dirinya juga menjelaskan bahwa ada dua jenis pengertian Nasionalisme, yaitu Nasionalisme dalam arti sempit dan Nasionalisme dalam arti luas. Nasionalisme dalam arti luas adalah suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi harus diserahkan kepada Negara kebangsaan. Sedangkan Nasionalisme dalam arti sempit disebut juga dengan Nasionalisme negatif karena mengandung makna perasaan kebangsaan atau cinta terhadap bangsanya yang sangat tinggi.
“ Meskipun berbeda-beda, Nasionalisme dari saya hanya satu yaitu melayani masyarakat “, tutup Narasumber Raffi Ahmad.
Usai kegiatan Dialog Kebangsaan tersebut, Kasenat Sespimmen Polri Dikreg ke-64, Serdik Dr. Muh Ardila Amry, S.H., S.I.K.,M.Si. menyampaikan. Bahwa Kita sebagai generasi penerus Polri harus sadar tentang di era apa saat ini kita berada, kemudian kita juga harus sadar akan akselerasi perubahan yang amat sangat cepat. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri, harus beradaptasi, harus bisa keluar dari zona nyaman, bahkan kita jangan menunggu. Kita harus bisa respontif, reaktif, proaktif, dan problem solving.
” Di era vuca saat ini tentunya kita Polri harus mampu menjadi ikon, yaitu ikon Kebhinekaan dan juga ikon toleransi. Yang mana didalamnya itu tentunya kita harus mempunyai value tersendiri, dan kita juga harus mempunyai semangat sebagai Penjaga Kehidupan, Pembangun Peradaban, yang sekaligus Pejuang Kemanusiaan ,” tutupnya.
