CDL: Bhabinkamtibmas Camera dan Media Branding

oleh -41,247 views
oleh

JAKARTA – Di era digital Camera menjadi bagian ruang bergerak yang menangkap fenomena yang dapat diteruskan melalui media sebagai ruang komunikasi bagi membangun jejaring yang membentuk persepsi maupun opini publik.

Di era digital, televisi (Camera) merupakan jembatan bagi media yang dapat menghidupkan atau bahkan mematikan sesuatu fenomena.

Era digital juga berdampak danya post truth untuk meng obok obok opini publik dengan berbagai berita hoax nya. Bagi Polisi.

 

Camera branding maupun media dapat dimanfaatkan sebagai ruang literasi, untuk mengedukasi, mempromosikan, menginspirasi warga masyarakat, dan pemangku kepentingan lainya, untuk peka dan peduli akan kemanusiaan, keamanan dan rasa aman di lingkungannya, bahkan dalam membangun peradaban.

 

Camera maupun media branding juga dapat untuk memperkenalkan sosok polisi dan pemolisiannya. Yang bukan sebatas apa dan bagaimana melainkan juga membangun siapa.

 

Camera maupun media dapat menjadi branding bagi polisi khususnya Bhabinkamtibmas merupakan ajang kreativitas dan inovasi untuk membangun image atau citra maupun jejaring kemitraan.

 

Di satu sisi, masyarakat membutuhkan, informasi, solusi dan respon, bahkan inspirasi dari kepolisian. Di sisi lainnya, polisi juga membutuhkan informasi, komunikasi, dukungan dan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya, untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

 

Melalui camera maupun media branding, polisi dapat membuat jarak yang sangat dekat sehingga mampu bereaksi dengan cepat, saling bertukar informasi, komunikasi, edukasi, koordinasi, dan berbagai program yang sinergi.

 

Polisi memiliki banyak model yang bisa di-branding sebagai ikon melalui camera untuk mentransformasikan berbagai efek:

1. Mengabarkan hal yang baru.

2. Mendorong orang lain berbuat baik.

3. Menginspirasi.

4. Memberdayakan.

5. Menghibur.

6. Membuat counter issue.

Camera maupun media branding dapat membantu pelaksanaan tugas para Bhabinkamtibmas melakukan perubahan yang membawa manfaat bagi banyak orang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yaitu dengan terjaminnya keamanan dan rasa aman dalam masyarakat.

 

Penampilan kinerja para Bhabinkamtibmas di camera maupun media dapat berdampak personal dan sosial yang influence (Mempengaruhi) bagi strategi pencegahan, penanganan saat kejadian, maupun pasca kejadian.

 

Sadar atau tidak sadar, camera maupun media telah merubah perilaku dan pola hidup atau kehidupan banyak orang.

 

Dewasa ini, sudah berkembang internet dan sosial media (Sosmed) dimana kita bisa membaca berbagai komentar dengan kalimat pedas.

Oleh karena itu, selain untuk masyarakat dan eksternal kepolisian, camera maupun media branding juga dapat digunakan untuk kepentingan internal kepolisian antara lain:

1. Seleksi calon-calon kepolisian, pemimpin kepolisian pada posisi-posisi strategis.

2. Membangun ikon-ikon bagi petugas-petugas polisi yang profesional, cerdas, bermoral.

3. Modern menunjukkan transparansi dan akuntabilitas kepada publik.

Melalui camera maupun media auragenic (Apa yang dirasakan menyenangkan oleh pemirsa, membuat tenang atau sebaliknya, tentang sesuatu yang dilihat di layar kaca).

 

Dengan memberdayakan camera dan media memunculkan auragenic Bhabinkamtibmas yang menunjukan karakternya (Kompetensi, komitmen, dan keunggulannya), profesionalisme, modernitas, transparansi, dan akuntabilitas yang dapat meningkatkan atau meningkatkan citranya.

 

Semuanya itu merupakan bagian dari membangun kepercayaan dan kemitraan dalam mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial.

 

Forum Bhabinkamtibmas merupakan proses pembelajaran yang bukan sekedar apa dan bagaimana melainkan menjadikan siapa.

 

Bisa saja menjadi siapa ini mungkin saja berkat atau given atau bawaan orok yang sudah menjadi takdirnya. Apakah mereka santai santai saja dan semuanya turun dari langit? Tentu saja tidak.

Semua itu adalah proses kerja keras dan kerja cerdas melalui perjuangan dan doa bahkan merekapun yang telah menjadi legenda melalui proses panjang dan keras.

Menjadi siapa, bukan sekedar cita cita atau puncak pencapaian melainkan penghayatan dan ketekunan dengan segala resiko dan konsekuensinya menjalankan panggilan hidupnya.

Perjuangan tentu sarat resiko, penuh dengan kemungkinan gagal bahkan menjadi korban di tengah jalan.

Menjadi siapa bukan sebatas menapaki anak tangga melainkan ada suatu panggilan yang dengan sadar bahwa dirinya ada tugas tanggung jawab yang harus diembannya.

 

Kalau dilihat apa yang dilakukannya akan nampak melampaui di atas rata rata, yang membutuhkan tekad bulat, perjuangan pengorbanan darah dan air mata. Jalanan terjal pancal menanjak licin berliku tentu tidak mudah.

Di situlah ketekunan konsistensi kemauan keras ketulus ikhlaskan bahkan berani menunjukkan suatu keyakinan penuh harapan.

Menjadi siapa ini bagian orang yang telah selesai dengan dirinya tidak lagi egois dan mampu melebur dalam kepekaan kepedulian bahkan bela rasa kepada sesamanya. Ini bagian patriotisme bukan sekedar mencari panggung atau cari untung sendiri.

Ia bukan karbitan. Bukan produk kroni atau klik. Tentu juga bukan golongan pemuja kekuasaan pangkat jabatan dan sebagainya.

Menjadi dikenal atau terkenal karena karyanya proses perjuangannya ketahanan dan ketekunannya keberaniannya berkorban.

Mereka merupakan patriot pejuang dengan jiwa besar di dalam berjuang mengatakan badanku dapat kamu belenggu dan dapat dihancurkan namun jiwaku pemikiranku tetap merdeka.

Di era digital camera maupun media branding dapat menjadi suatu landasan passion para Bhabinkamtibmas dalam pemolisiannya yang mampu menunjukan:

1. Polisi sebagai penjaga kehidupan.

2. Polisi sebagai pembangun peradaban.

3. Polisi sebagai pejuang kemanusiaan.

4. Polisi sebagai penegak hukum dan keadilan.

5. Pemolisiannya menunjukkan tingkat dan kualitas profesional, cerdas bermoral dan modern yang dilandasi kesadaran, tanggung jawab dan disiplin.

6. Pemolisiannya smart policing, harmoni dan terintegrasi nya conventional policing, electronic policing dan forensic policing.

7. Pemolisiannya berbasis pada supremasi hukum.

8. Pemolisiannya mampu memberikan jaminan dan perlindungan HAM.

9. Pemolisiannya transparan dan akuntabel secara moral, secara hukum, secara administrasi, secara fungsional dan secara sosial.

10. Pemolisiannya berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

 

 

Artikel Tulisan Karya Kalemdiklat Polri, Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.