Metamorfosa Snow Flow Parenting Dalam Pendidikan Kepolisian (Sebuah Refleksi Transformasi Pendidikan Polri)

oleh -204 views
oleh

JAKARTA – Snow plow parenting adalah pola asuh di mana orang tua terlalu protektif dan ikut campur dalam kehidupan anak-anaknya. Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa
snowplow parenting memiliki ciri ciri sebagai berikut. Orang tua berusaha untuk selalu menyingkirkan semua rintangan yang dihadapi anak , berusaha melancarkan perjalanan sang anak agar lancar tidak boleh ada yang menghalangi sekalipun hanya rumput yang berada di hadapannya.

 

Orang tua mengambil alih tanggung jawab anak, seperti menyiapkan kebutuhan sekolah, atau memutuskan pilihan ekstrakurikuler baik dilakukan secara langsung atau dengan pihak lain untuk melaksanakannya, tentu saja saat melibatkan pihak lain atau pihak ketiga orang tua punya daya untuk menggerakkannya Orang tua mengutamakan efisiensi daripada kemandirian.

 

Dalam sebuah pendidikan justru pola seperti ini akan melemahkan sang anak yang sedang mengikuti prosesnya sehingga berpotensi ketidak mandirian sang anak.

 

Memahami konsepsi di atas, Bagaimana jika Snow flow Parenting bermetamorfosa pada situasi pendidikan bukan lagi kepada anak, tetapi terbawa dan mengikuti sang anak hingga pada tingkat pendidikan dewasa.

 

Metamorfosa bisa saja terjadi pada berbagai bidang dan masalah, termasuk dalam kehidupan sosial salah satunya adalah kependidikan. Istilah “metamorfosis sosial” dapat merujuk pada beberapa buku dan konteks yang berbeda, bergantung pada sudut pandang penulisnya.

 

Sebagaimana Karya Franz Kafka dalam bukunya yang berjudul Metamorfosis Meskipun bukan tentang sosiologi secara harfiah, buku ini membahas tema-tema yang sangat relevan dengan metamorfosis sosial, seperti keterasingan, perlakuan terhadap individu yang berbeda, dan bagaimana identitas seseorang memengaruhi posisi mereka di masyarakat dan kehidupan sosial.

 

Bahasan tentang metamorfosis sosial juga ditulis untuk tujuan akademis dan penelitian. Sebagai contoh adalah e-book Social Metamorphosis: Unveiling the Dynamics of Transformation dan Social Metamorphosis Unleashed: The Power of Movements yang ditulis Hannah Turner dan Robert Rogers. Buku ini membahas dinamika perubahan dalam gerakan sosial dan kekuatan di balik perubahan masyarakat yang berarti.

 

Saat Snow Plow Parenting bermetamorfosa dalam dunia pendidikan dan merambah pada pendidikan Orang dewasa, maka segala sesuatunya dapat merubah Proses penyelenggaraan pendidikan dan berdampak tidak tercapainya standard kompetensi pada akhir pembelajarannya. Apalagi jika metamorfosa itu terjadi pada pendidikan kedinasan.

 

Fakta dan gejala bahwa setiap orang tua yang mapan dengan pekerjaannya, kemudian ingin meregenerasi kepada keluarganya adalah wajar. mencari penerus karena telah mengetahui prospek dari pekerjaan yang digelutinya atau melihat pendidikan di luar pekerjaannya dan kemudian “memasukkan” pada sebuah pendidikan kedinasan yang dinilai menjamin masa depan namun melakukan campur tangan. Gejala ini yang kemudian menjadikan tidak sehat bagi sebuah proses pendidikan.

 

Orang tua dalam metamorfosa snow plow parenting memiliki makna bukan hanya sekedar orang tua secara biologis, namun membawa makna mereka yang dapat menjadi pelindung, memiliki kedudukan, kekuasaan, ketokohan dan sebagainya. Mereka yang pada proses pendidikan memiliki pengaruh untuk melakukan intervensi dalam pendidikan menjadi sempalan metamorfosa snow flow parenting. Intervensi dalam beberapa hal diperlukan, namun intervensi positif. bagaimana efek snow plow parenting?

 

Akhir akhir ini pasca peristiwa Agustus kelabu 25 Agustus 2025 yang ternyata berdampak pada Polri, memberikan mandat agar Polri melakukan Transformasi, salah satunya adalah bidang pendidikan, meskipun sebenarnya tanpa tuntutan dampak Agustus kelabu, Polri telah dan senantiasa merefleksi diri dalam bidang pendidikan. Namun demikian lahirnya mandat tersebut akan semakin mendorong Polri untuk semakin “ngegas” perubahan dan perbaikan Pendidikan.

 

Menyoal pendidikan kepolisian adalah bicara menyiapkan calon dan kader anggota Polri yang mahir, terpuji, patuh hukum dan unggul, atau bermoral, profesional dan modern. Dinamika pendidikan Kepolisian yang dituntut mengikuti perkembangan masyarakat beserta tantangannya, harus disikapi dengan kemampuan adaptif.
Mekanisme Pendidikan Kepolisian dimulai dari rekrutmen hingga pendidikan dan meluluskan peserta didiknya. Pada dasarnya Regulasi, Prosedur dan proses Pendidikan di Kepolisian telah tertata dengan baik, karena dalam setiap penentuan rencana pendidikan, telah melalui penelitian, dan melibatkan berbagai kalangan, Ahli, pakar dan komponen yang berhubungan dan memiliki kapasitas bidang pendidikan Polri.

 

Namun demikian pada pelaksanaannya masih ditemui kendala, salah satunya adalah Intervensi yang bersifat negatif. Kemandirian Polri bukan berarti bebas sebebas bebasnya dan tidak menerima saran, maupun kritik.

 

Lemdiklat Polri adalah bagian dari Organisasi Polri yang secara hierarki sebagai penanggung jawab pendidikan di lingkungan Polri. Meski perlu mendapat pengawasan dan evaluasi namun demikian bukan berarti tidak mandiri.

 

Pendidikan Kepolisian bukan saja sekedar menyiapkan kader dan generasi Polri, namun bagian dari upaya membangun Kemandirian Serdik dan membangun Moral dan Karakter anggota Polri. Karenanya regulasi yang telah ada merupakan landasan pelaksanaan terlaksananya sebuah proses pendidikan yang harus diikuti dan dijalankan dengan kemandirian.

 

Apa hubungan metamorfosa Snow plow parenting dengan pendidikan Kepolisian Pendidikan Kepolisian adalah pendidikan orang dewasa, yang membutuhkan karakter dan kemandirian. Hal ini disebabkan karena selesainya pendidikan kepolisian berujung pada terbentuknya sosok polisi yang mampu berhadapan dengan masyarakat dan masalah sosial.

 

Terlalu riskan jika snow plow parenting merambah wilayah pendidikan kepolisian. Meski demikian metamorfosa nya tidak dapat di hindari. Proteksi Parents, terhadap peserta didik sangat terasa meski kadang harus menabrak ketentuan dan peraturan.

 

Campur tangan berlebihan bahkan sampai dengan intervensi yang bersifat negatif dari “Parent” atau “orang tua” terhadap beberapa peserta didik, masih banyak terjadi, Mulai dari metode, proses, evaluasi bahkan kehidupan dalam pendidikan telah dimasuki.

 

Kondisi semacam ini berdampak pada risiko tidak tercapainya profil dan kompetensi pada lulusannya sehingga tidak memenuhi standar kompetensi dan kompetensi standard sebagai seorang anggota Polri, meski kurikulum telah tersusun dengan baik yang didasari berbagai pertimbangan dan kondisi kekinian.

 

Bagaimana mencegah metamorfosa Snow plow parenting. Penyelenggaraan pendidikan pada Kepolisian melibatkan banyak pihak, baik yang bersifat struktural maupun Fungsional, eksternal dan internal. Mereka memiliki tugas Pokok dan fungsi masing masing. Fakta yang timbul para “orang tua” (parent) yang merasa berkepentingan melakukan intervensi dengan kekuatan, kewenangan dan kekuasaannya.

 

Tanpa kita sadari menjalarnya metamorfosa Snow plow parenting dalam pendidikan kepolisian telah menanamkan karakter dan mental yang lemah dan bahkan menumbuhkan sifat sifat yang bertentangan dengan seorang Polisi yang seharusnya menjiwai Tri Brata dan Catur Prasetya.

 

Beberapa contoh sikap yang timbul dan bertentangan dengan karakter Ke Bhayangkaraan tersebut seperti.

– Tidak memiliki dedikasi
– tidak demokratis,
– merasa terlindungi oleh kekuatan yang lebih tinggi (tidak memiliki empati)
– sombong dan tidak menghargai peraturan.
– merendahkan / tidak mengormati orang lain.
– tidak disiplin.
– menjauhi kejujuran
– tidak menjiwai tujuan pendidikan yang dilaksanakan.
– tidak mendapatkan ilmu yang diajarkan. dan sebagainya.

 

Kondisi semacam ini akan diperparah lagi jika Pengelola pendidikan merasa tidak dihargai karena adanya metamorfosa tersebut. Kerawanan yang timbul pada pendidik adalah rasa acuh terhadap peserta didik, karena tidak mendapatkan kemandirian dan padat dengan intervensi dan tekanan. Timbul pertanyaan.

 

Siapa yang di rugikan? Tentu saja yang dirugikan adalah Polri, Masyarakat dan Negara. karena tidak dapat menghasilkan calon Polisi sesuai harapan. Meski tidak semua namun keberadaan metamorfosa Snow plow parenting dalam pendidikan akan menjadi virus yang terus menjalar dan menimbulkan keprofesionalan Polri yang lebih besar, karena Kader yang dibentuk sudah terjangkit virus virus yang jauh dari Karakter Ke Bhayangkaraan.

 

Metamorfosa Snow plow parenting pada pendidikan Polri jika dibiarkan akan berubah menjadi pandemi yang memunculkan hegemoni Pendidikan. Pendidikan Polri bukan hanya sekedar menyiapkan dan membentuk Kader Polri, tetapi juga membentuk Moral dan Karakter Ke Bhayangkaraan, karenanya Pendidikan Polri harus terbebas dari Hegemoni.

 

Artikel Tulisan Karya STR’90.