NAGEKEO – Isu yang tengah viral di Kabupaten Nagekeo dan Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa minggu terakhir menjadi perhatian luas publik. Percakapan masyarakat, baik di media sosial maupun di ruang-ruang publik, menyoroti dua figur penting dalam institusi kepolisian. Yaitu mantan Kapolres Nagekeo, AKBP Yuda Pranata, dan Kabag Ops Polres Nagekeo, AKP Sarfolus Tegu.
Beragam opini, tudingan, bahkan serangan pribadi terhadap dua perwira polisi ini menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Di satu sisi, ada pihak yang mengklaim membela kepentingan publik. di sisi lain, tak sedikit yang menilai bahwa isu ini sudah keluar dari koridor etika dan fakta.
Dalam upaya menghadirkan pandangan yang lebih berimbang, pada Selasa (28/10/2025) melakukan penelusuran langsung ke masyarakat. Salah satu tokoh yang ditemui adalah Patrisius Seo, Tokoh Adat Suku Nataia, di kediamannya di Aeramo. Wawancara ini menggali perspektif adat terhadap dinamika sosial yang tengah memanas, dengan fokus pada nilai-nilai moral, etika publik, dan kearifan lokal masyarakat Nagekeo.
“ Jangan Rusak Persatuan Nagekeo dengan Isu dan Fitnah Pribadi
Bagaimana Bapak menilai fenomena di mana Polres Nagekeo, Pak Yuda, dan Pak Tegu diserang di media sosial?
Patrisius Seo: Kami tidak ingin persatuan masyarakat Nagekeo dirusak oleh perbuatan orang-orang yang tidak bermoral. Di Mbay ini ada tiga suku besar – Nataia, Lape, dan Dhawe – yang selama ini hidup rukun dan saling mendukung setiap program pemerintah dari pusat hingga daerah. Kami menerima dan ikut berkontribusi terhadap pembangunan Polres, RSUD, TNI, lahan irigasi, hingga lembaga pendidikan.
” Saya mengenal mereka secara pribadi. Baik Pak Yuda maupun Pak Tegu, keduanya pekerja keras yang dekat dengan masyarakat. Pak Tegu, khususnya saat menjabat sebagai Kasat Intel, kerap turun langsung ke lapangan siang dan malam untuk memberikan pemahaman kepada warga terkait proyek Waduk Lambo. Kadang ditolak dan bahkan diusir oleh beberapa orang yang menolak pembangunan waduk Lambo. Pernah suatu malam, pukul tiga dini hari, ia sempat singgah di pondok saya hanya untuk curhat dan berdiskusi tentang tantangan rencana pembangunan waduk tersebut “, ujarnya.
Dirinya juga menyampaikan Sangat perihatin, pemberitaan sekarang sudah menjurus ke serangan pribadi dengan cara-cara yang tidak bermartabat. Padahal, Waduk Lambo adalah proyek strategis nasional yang membawa manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakat Nagekeo. Seharusnya kita bangga, bukan malah memperuncing perpecahan.
Kami, tiga suku besar di Mbay, telah menyerahkan ribuan hektare tanah untuk kepentingan umum tanpa konflik. Karena itu, saya bertanya-tanya, siapa sebenarnya di balik semua ini? Saya hanya ingin mengingatkan saudara-saudara Nagekeo, di mana pun berada — di Papua, Kalimantan, Jawa, atau Sulawesi , agar tidak memperkeruh keadaan dengan informasi yang belum tentu benar. Kirimkan kesejukan, bukan bara api.
Tanpa Polri, Waduk Lambo Tidak Bisa Dikerjakan.
Bagaimana pandangan Bapak mengenai peran Polres Nagekeo dalam pembangunan Waduk Lambo?
Patrisius Seo: Sebagai tokoh adat, saya belum pernah mendengar preseden buruk terkait Polres Nagekeo dalam proyek Waduk Lambo. Tugas mereka jelas: mengamankan dan mengawal Proyek Strategis Nasional agar berjalan lancar dan damai. Tanpa Polri, proyek waduk itu tidak akan bisa dikerjakan.
” Kita tidak percaya dengan narasi mafia. Mafia ada kalau ada yang diuntungkan, tapi sejauh ini saya belum melihat bukti Pak Yuda atau Pak Tegu mencari keuntungan. Saya justru menyayangkan berita-berita yang menyerang mereka tanpa dasar. Mereka ditugaskan negara untuk menjaga keamanan masyarakat. Kita seharusnya bersyukur, bukan menuduh.
Pak Tegu Sosok yang Mengayomi, Jangan Lukai Hatinya dan Keluarganya
Apakah Bapak mengenal AKP Sarfolus Tegu secara pribadi?
Patrisius Seo: Tentu. Bagi saya, Pak Tegu adalah sosok yang mengayomi dan menjadi kebanggaan Nagekeo. Saat ini, Pak Tegu dipercayakan sebagai Kabag Ops, pejabat yang strategis di Polres Nagekeo.Menjelang masa pensiunnya justru menghadapi ujian berat. Saya tahu betul bagaimana pemberitaan akhir-akhir ini menyakiti hati keluarganya — istrinya, anak-anaknya, dan keluarga besarnya.
Sebenarnya kita berencana menemui beliau untuk memberikan dukungan moral. Dalam adat kami, menyerang kehormatan seseorang di ruang publik adalah perbuatan yang memalukan dan tercela.
Selesaikan dengan Adat dan Jalur Hukum. dan Apa harapan Bapak agar situasi ini segera berakhir?
Patrisius Seo: Kita ini orang beradat. Segala persoalan harus diselesaikan dengan cara santun dan bermartabat — datang, bertemu, dan berbicara baik-baik, bukan menyerang lewat tulisan di dunia maya. Jika ada pelanggaran, tempuh lah jalur hukum. Negara sudah mengatur segalanya.
Saya juga mengajak wartawan, pastor, dan akademisi untuk bercermin. Tugas kita bukan menjatuhkan, tetapi membangun manusia Nagekeo yang beretika dan berkarakter. Jangan sampai kita memakai cara yang salah untuk tujuan yang benar.
Dalam Hukum Adat, Membuang Ludah Saja Ada Sanksinya.
Dalam perspektif adat, adakah sanksi bagi pelaku pencemaran nama baik terhadap orang lain?
Patrisius Seo: Dalam hukum adat, membuang ludah saja ada sanksinya, apalagi mencemarkan nama seseorang di ruang publik. Itu pelanggaran berat. Untuk memulihkan nama baik, harus dilakukan upacara adat “Pa’ra Bhe’re” — dengan denda seekor kerbau besar dan seekor babi besar. Jadi tidak mudah. Itulah sebabnya masyarakat adat hidup dalam tatanan yang damai, karena setiap kata dan tindakan memiliki konsekuensi moral.
Pandangan Generasi Muda: Bijak, Objektif, dan Etis.
Selain tokoh adat, jurnalis juga mewawancarai sejumlah tokoh muda Nagekeo.
Charles Jupa, mantan aktivis dan Ketua Forum Pemuda Peduli Perubahan Nagekeo (AP3N), menyerukan agar generasi muda mengambil peran aktif dalam pembangunan daerah secara konstruktif.
“ Cukuplah sudah kita berpolemik dan berdebat kusir di mana-mana. Nagekeo membutuhkan kontribusi nyata dari semua elemen pemuda ,”ujarnya.
Menurut Charles, generasi muda sebagai agent of change seharusnya menjadi motor perubahan sosial, kritis dan membawa kesejukan, bukan sumber perpecahan.
“ Perubahan tidak lahir dari kemarahan, tetapi dari kerja sama dan tanggung jawab bersama. Kritik seharusnya berbasis data, berimbang dan obyektif. Tugas pemuda adalah merawat kedamaian dan menjadi jembatan di antara perbedaan ,”tambahnya.
Sementara itu, Yohanes Towa Rema, tokoh pemuda asal Aeramo, menyoroti aspek pemberitaan terhadap isu ini.
“ Kami menyesalkan pemberitaan yang menelanjangi orang di depan publik. Itu bukan jurnalisme, tapi penghinaan. Jurnalis harus berimbang, objektif, dan tajam. Jika ingin persoalan ini menjadi terang, saya berharap Propam Polda segera turun dan memeriksa secara adil ,”tegasnya.
Wawancara eksklusif ini merupakan bagian dari liputan mendalam politisinusantara.com untuk memahami persoalan sosial di Nagekeo dari berbagai perspektif. Dalam tradisi masyarakat adat, kebenaran dan kehormatan tidak dapat dipisahkan dari adab dan moralitas.
Pesan utama yang dirangkum redaksi:
” Nagekeo tidak boleh dipecah oleh fitnah dan amarah. Mari jaga persaudaraan, hormati adat, dan hadapi masalah dengan kepala dingin serta hati yang jernih .” tutupnya.







