Sepekan di Nagan Raya, Dianmas STIK Sindikat IX Hadirkan Polri Humanis

oleh -397 views
oleh

ACEH – Selama sepekan penuh di Kabupaten Nagan Raya menjadi ruang belajar sosial bagi mahasiswa STIK-PTIK Sindikat IX Angkatan 83 Widya Parama Satwika. Di wilayah yang baru saja bangkit dari bencana, para calon perwira Polri tidak datang membawa seragam kewenangan, melainkan empati, kerja bersama, dan kesediaan mendengar. Pengabdian masyarakat ini bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi perjumpaan langsung dengan realitas kemanusiaan.

Dalam setiap agenda – dari Saweu meunasah, saweu Sikula, Saweu gampong, hingga tradisi meugang – pendekatan yang digunakan konsisten: partisipatif dan humanis. Polri hadir bukan sebagai institusi yang berjarak, melainkan sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.

Dosen PTIK Komjen Prof Chryshnanda Dwilaksana berulang kali menegaskan bahwa pengabdian semacam ini adalah fondasi pembentukan karakter perwira.

“Polisi yang kuat bukan hanya yang mampu menegakkan hukum, tetapi yang sanggup memahami denyut sosial masyarakatnya. Di situlah kehadiran Polri diuji, terutama saat masyarakat berada dalam kondisi paling rentan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/02/2026).

Hari-hari awal pengabdian diisi dengan gotong royong membersihkan masjid, trauma healing bagi anak-anak, hingga penyerahan bantuan sederhana namun bermakna. Di Gampong Alue Siron dan Tadu Raya, mahasiswa bersama warga membersihkan rumah ibadah, membangun kembali rasa aman, serta memulihkan semangat pascabencana. Aktivitas spiritual dan psikologis berjalan beriringan, menegaskan bahwa pemulihan tidak berhenti pada aspek fisik.

Pendekatan serupa berlanjut di sekolah dan dayah. Di SMAN 1 Kuala, mahasiswa mengajak siswa berdialog tentang pengalaman menghadapi banjir dan pentingnya mitigasi bencana. Di Dayah Nurul Muhajadah, pembangunan sumur bor menjadi simbol paling nyata dari harapan baru: air bersih kembali mengalir, aktivitas ibadah dan belajar kembali berjalan.

Komjen Prof Chryshnanda menekankan makna kehadiran langsung di lapangan. “Pengabdian seperti ini melatih kepekaan. Polisi belajar melihat persoalan dari sudut pandang warga, bukan sekadar dari laporan. Inilah esensi memenangkan hati dan pikiran masyarakat,” katanya.

Di wilayah Beutong Ateuh Banggalang, perjalanan yang menantang justru memperkuat semangat kebersamaan. Trauma healing dikemas lewat permainan dan edukasi, sementara tradisi meugang membuka ruang dialog tanpa sekat. Di sana, polisi dan warga duduk sejajar, memasak bersama, berbagi cerita, dan membangun kembali rasa percaya.

Revitalisasi Polindes Ujong Krung menjadi contoh sinergi lintas unsur. Mahasiswa, Polsek, pemadam kebakaran, dan warga bahu-membahu membersihkan lumpur sisa banjir. Fasilitas kesehatan yang sempat terbengkalai kembali difungsikan. Bagi warga, ini bukan sekadar bangunan yang diperbaiki, tetapi tanda bahwa negara hadir.

Pendampingan dan penguatan nilai terus ditekankan oleh Paping Sindikat IX, Kristanto Yoga Darmawan, S.I.K., M.Si. Ia menyebut pengabdian masyarakat sebagai implementasi nyata policing in disaster.

“Bekerja dengan disiplin, menggunakan logika, dan mengedepankan empati menjadi hal utama yang selalu saya tekankan kepada mahasiswa,” ujarnya.

Kristanto menilai capaian selama sepekan ini tidak diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan dari dampak yang dirasakan warga. “Pengabdian ini tidak hanya memulihkan bangunan fisik, tetapi juga nonfisik. Saya melihat langsung antusiasme masyarakat dan rasa syukur mereka. Itu menjadi pelajaran penting bagi mahasiswa,” katanya.

Ia menambahkan, “Polisi harus adaptif, peka terhadap kearifan lokal, dan hadir sebagai pelindung serta pengayom, terutama saat bencana.”

Rangkaian kegiatan ditutup dengan meugang bersama Warakawuri di Polres Nagan Raya. Momen tersebut menjadi refleksi bahwa pengabdian tidak berhenti pada masyarakat luas, tetapi juga kepada keluarga besar Polri.

Komjen Prof Chryshnanda kembali menegaskan arah besar pembinaan calon perwira. “Policing dalam kebencanaan adalah manifestasi nyata Polri yang humanis. Dari sinilah lahir perwira yang profesional, responsif, dan berkeadilan,” ujarnya.

Sepekan di Nagan Raya menunjukkan bahwa pengabdian yang dilakukan dengan hati mampu menghadirkan perubahan nyata. Bagi Sindikat IX Angkatan 83 Widya Parama Satwika, pengalaman ini menjadi bekal penting: memahami bahwa tugas Polri bukan hanya menjaga keamanan, tetapi merawat kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.