Gerobak Listrik Jemput Sampah, RT 11 Gandaria Utara Hadirkan Solusi Pengelolaan Sampah Modern

oleh -41 views

JAKARTA – Upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus melahirkan inovasi baru. Ketua RT 11 RW 07 Kelurahan Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Imam Basori bersama warga resmi meluncurkan program Kompos Keliling (KomLing), memperkenalkan jingle “KomLing Mania”, sekaligus menghadirkan inovasi Smart Geprek, alat pemadat botol plastik dan kaleng minuman berbasis teknologi sederhana.

Program ini merupakan bagian dari gerakan perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Melalui KomLing, sampah organik dari dapur tidak lagi menumpuk di tempat sampah atau berakhir di Tempat Pembuangan Sampah (TPS), melainkan dijemput langsung menggunakan gerobak listrik untuk kemudian diolah menjadi kompos.

Imam Basori, mengatakan bahwa persoalan sampah harus diselesaikan dari hulunya agar tidak menjadi beban lingkungan di hilir.

“Kami mencoba menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya, yaitu dapur rumah tangga. Sampah organik seperti sisa makanan dan sayuran akan dijemput langsung melalui KomLing untuk diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan jemput bola menjadi solusi agar warga lebih mudah berpartisipasi dalam pengelolaan sampah. Kehadiran gerobak listrik KomLing diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik sejak dari rumah.

Tidak hanya itu, RT 11 RW 07 juga meluncurkan Smart Geprek, alat yang digunakan untuk memadatkan botol plastik dan kaleng minuman sebelum masuk ke bank sampah. Dengan volume yang lebih kecil, proses penyimpanan dan pengangkutan sampah anorganik menjadi lebih efisien serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Untuk memperkuat kampanye perubahan perilaku warga, peluncuran program ini juga diramaikan dengan hadirnya jingle “KomLing Mania”. Lagu tersebut dirancang sebagai media edukasi yang ringan dan mudah diingat agar masyarakat terbiasa memilah sampah organik, anorganik, dan residu.

Camat Kebayoran Baru, Rahmat Mulyadi, yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan warga RT 11 RW 07. Menurutnya, tugas utama lingkungan RT pada dasarnya adalah menciptakan kawasan yang aman, bersih, dan sehat.

Ia menilai KomLing menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat menyelesaikan persoalan sampah secara mandiri dari tingkat rumah tangga. Menurut Rahmat, jika sampah selesai di rumah tangga, maka tidak ada lagi sampah yang menumpuk di tingkat RT, RW, hingga kelurahan.

“Kalau sampah selesai di rumah tangga, tidak ada sampah di RT. Kalau tidak ada sampah di RT, tidak ada sampah di RW. Kalau tidak ada sampah di RW, tidak ada sampah di kelurahan. Artinya, Jakarta bisa bebas sampah,” ujarnya.

Rahmat juga menyebut konsep KomLing sebagai inovasi yang belum banyak dilakukan pemerintah. Menurutnya, sistem penjemputan sampah organik menggunakan gerobak keliling merupakan terobosan yang mampu menjawab persoalan pemilahan sampah yang selama ini sering kembali tercampur saat proses pengangkutan.

Senada dengan itu, Lurah Gandaria Utara, Muhammad Fahri, menegaskan bahwa pengelolaan sampah dari rumah tangga menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi mengingat kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang semakin terbatas.

Menurut Fahri, KomLing menjadi langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir dengan mengolah sampah organik langsung di lingkungan warga. Ia juga mendorong pembentukan bank sampah dan pengembangan fasilitas pengolahan organik seperti komposter maupun teba modern.

“Ke depan yang dibuang ke Bantargebang hanya sampah residu. Karena itu masyarakat harus mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah,” katanya.

Melalui kolaborasi antara warga, pengurus lingkungan, dan pemerintah, RT 11 RW 07 Gandaria Utara berharap KomLing, Smart Geprek, dan jingle KomLing Mania dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah lain di Jakarta.

Dengan mengusung semangat “Mengubah Sampah Menjadi Berkah”, program ini tidak hanya bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga membangun budaya gotong royong serta ekonomi sirkular di tengah masyarakat perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.