JAKARTA – Komunikasi adalah faktor penting dalam setiap kegiatan, terutama dalam menyampaikan pesan, baik perorangan maupun dalam ikatan kelompok.
Komunikasi tidak hanya sekedar berbicara dengan lawan bicara, karena di dalamnya terdapat isi pesan yang di sampaikan, gestur yang ditampilkan, emosi yang dirasakan dan sebagainya. ungkapan yang muncul dari proses komunikasi sangat di pengaruhi hal tersebut.
Demikian juga dalam proses pembelajaran. penyampaian pesan yang bertujuan melakukan transfer Ilmu Pengetahuan, membutuhkan kondisi komunikasi yang smart.
Keberadaan seorang pendidik dalam kelas pada dasarnya adalah bentuk komunikasi kelompok, meski tidak sepenuhnya dapat dibilang tim kerja, namun keberadaan mereka terikat dengan tujuan yang linier.
Yaitu terlaksananya transfer Ilmu pengetahuan. oleh sebab itu perlu dibangun suatu kondisi komunikasi yang engage atau saling terlibat dan terikat.
Saya sangat tertarik dengan tulisan Azzanindan Soffie Beatrix tentang Engaging Communication.
Konsep yang ditawarkan meskipun untuk sebuah kelompok organisasi, namun masih relevan jika diterapkan pada kelompok Belajar dalam Proses pendidikan dan pelatihan.
Dia (Azzanin & Soffie Beatrix) menawarkan sebuah konsep tentang engaging communication dengan Healing, meaning dan empowering.
pemikirannya adalah bahwa komunikasi dalam kelompok Belajar pada pendidikan Polri, terdiri dari multi background dalam suatu ruangan bahkan mungkin multi generasi.
Multi background antara lain dipengaruhi oleh, lingkungan sosial, pengalaman hidup, agama, Aturan adat, pendidikan, kompetensi, emosi dan sebagainya.
Dikatakan multi generasi karena perangkat pendidikan mulai dari penanggung jawab, penyelenggara, gadik/gadikan dan peserta didik dilahirkan pada masa generasi yang berbeda.
Pendekatan engaging communication diharapkan memberikan dampak positif dan dapat meningkatkan produktifitas belajar.
Engaging communication meliputi healing, meaning dan empowering.
Healing adalah proses penyembuhan diri atas luka batin yang dimiliki seseorang karena suatu kejadian sebelumnya yang menimbulkan trauma.
Meaning adalah mengajak orang lain untuk memahami dan sekaligus memaknai apa yang sedang di kerjakan.
Empowering adalah memberdayakan orang lain yang kita ajak komunikasi untuk melakukan dan menghasilkan satu hal yang positif dan terus meningkat.
Latar belakang yang berbagai macam dari para serdik. Setelah masuk lembaga pendidikan harus dilakukan pembenahan dan switch agar mereka bersih dari seluruh trauma, hal ini perlu dilakukan agar materi yang akan kita berikan dapat diterima dengan tanpa penghalang.
sementara itu meaning adalah akan membuat seseorang mudah terkoneksi dengan pihak yang mengajak komunikasi, pada saat proses pembelajaran.
Empowering dimaksudkan untuk mensupport peserta didik sekaligus pada bagian tertentu peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan evaluasi Gadik Oleh Serdik, (EGOS).
Prinsip empowering adalah saling mendorong diantara kelompok, sehingga proses pembelajaran dalam satu ruang kelas dapat saling memberdayakan kemampuan, gadik dan serdik, serta gadikan dari luar kelas.
Maka konsep engaging communication secara holistik mulai dari healing, meaning dan empowering akan mendapatkan satu.
Proses pembersihan trauma para serdik agar bersih dan dapat menerima pelajaran / materi yang diberikan, melalui komunikasi yang terkoneksi antara gadik dan serdik serta saling mendorong di antara mereka.
engaging communication disamping akan menghasilkan suatu kegiatan yang menyatu juga akan mendorong produktifitas dalam pembelajaran menghasilkan serdik serdik yang paham sehingga mencapai profil dan standard kompetensi sesuai dengan kapasitas dan bentuk pendidikan.
Engaging Communication dapat diterapkan dikembangkan dalam dunia pendidikan dan Pelatihan Polri.
Pola pembelajaran yang yang terbagi dalam kelompok kelompok kecil bahkan dalam kelas besar sekalipun, dapat diterapkan.
Dalam situasi tertentu, seperti waktu yang terbatas, pemberian tekanan dalam proses pendidikan, menuntut kita mampu melakukan respon yang cepat.
Kelompok belajar pada dasarnya adalah tim, dimana antara gadik dan serdik harus memiliki visi dan misi yang sama yaitu tercapainya pembelajaran yang berhasil melakukan transfer ilmu pengetahuan (Ilmu Kepolisian).
Oleh karena itu setiap anggota kelompok (Tim) dapat saling memahami, terkoneksi dan tau tugas masing masing.
Tugas gadik Adalah memberikan pembelajaran, tugas serdik dalam mengikuti pembelajaran.
Dan gadikan adalah pendukung dan pengelola proses pembelajaran, dan ketika tiap anggota tim mampu mendukung dan bekerjasama satu sama lainnya.
Dengan komunikasi yang bagus akan tercipta suatu proses yang menyenangkan sehingga transfer ilmu akan tercapai secara maksimal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang di targetkan.
(Str, 24, 01, 25).




