Dialog Peradaban Reformasi dalam Pembelajaran di Lemdiklat Polri

oleh -820,421 views
oleh

JAKARTA – Dialog peradaban merupakan model transformasi dalam membimbing maupun mencerahkan kepada para peserta didik di sekolah Lemdiklat Polri agar mampu menemukan keutamaannya sebagai polisi dalam pemolisiannya.

Polisi dalam pemolisiannya dituntut sehat, semangat dan smart dengan jiwa bahagia yang merdeka sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban maupun pejuang kemanusiaan.

Semua itu dalam mencapai tujuan pembelajarannya dapat dicapai dengan membuka ruang dialog dalam proses pembelajarannya bagi polisi yang menjaga kehidupan, membangun peradaban dan pejuang kemanusiaan.

Sekolah Lemdiklat Polri pembelajarannya berbasis moralitas, literasi dalam mentransformasi, mengkaji dan mengembangkan ilmu kepolisian melalui suatu Dialog Peradaban.

Keutamaan Polisi dalam pemolisiannya dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Menjadi role model. Menjadi suatu ikon / role yang menginspirasi dan menjadi panutan serta kebanggaan.

2. Memotivasi memberi spirit untuk menumbuhkan daya juang dan kreativitas serta nyali untuk melakukan kebaikan dan perbaikan.

3. Memahami keutamaan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya.

4. Memiliki kesadaran untuk belajar dan memperbaiki kesalahan di masa lalu.

5. Siap menghadapi berbagai tantangan, tuntutan dan harapan di masa kini.

6. Menyiapkan masa depan yang lebih baik.

7. Visioner, proaktif dan problem solving, mampu memprediksi, mengantisipasi dan memberikan solusi.

8. Komunikatif dan membangun Soft Power maupun Smart Power.

9. Dinamis dan mampu mengatasi distrupsi dengan kreatif dan inovatif.

10. Membawa dampak positif, dipercaya dan mendapat dukungan secara internal maupun eksternal.

Pembelajaran melalui dialog peradaban memberi ruang untuk membangun karakter yang berbasis pada moralitas dalam kesadaran, tanggung jawab dan disiplin.

Kesadaran merupakan landasan moralitas bagi manusia sebagai apa saja, apalagi sebagai petugas polisi dalam pemolisiannya.

Dengan adanya kesadaran, meyakini dan menjalankan pilihan hidup dan panggilan hidup sebagai polisi dengan baik dan benar tanpa ada tekanan atu paksaan.

Kesadaran sebagai anak bangsa menunjukan moralitas bangsa, sehingga menunjukan sikap dan perilaku yang menjaga nama baik bangsanya dan bekerja semaksimal demi kebesaran dan kejayaan bangsa.

Demikian halnya menjadi apa saja sebagai profesi apa saja tatkala kesadaran menjadi landasan moralnya makan profesionalisme akan dapat tumbuh dan berkembang.

Dengan adanya kesadaran maka akan muncul tanggung jawab dan buahnya adalah disiplin.

Tanpa kesadaran maka yang dilakukan adalah semu, kepura-puraan tidak tulus, hanya kucing-kucingan, dan berbuat baik karena dipaksa atau pamrih untuk sesuatu.

Tanpa kesadaran sebenarnya ambang kehancuran, tanpa harga diri berbuat munafik, tidak ada ketulusan dalam menjaga kebaikan dan kebenaran yang dipikirkan hanya kesenangan, kepentingan sesaat dan tanpa hati nurani peduli setan orang lain susah karenanya.

Membangun kesadaran adalah pendidikan sepanjang hayat, menanamkan kecintaan dan kebanggaan akan kebenaran, hal-hal yang produktif, peka dan peduli akan kemanusiaan, keberanian, patriotisme, nilai-nilai luhur dan sebagainya.

Membangun kesadaran sama dengan membudayakan yang baik dan benar sehingga seluruh komponen bangsa ikut bertanggung jawab dan ikut menjaga, bahkan menumbuh kembangkan sehingga sikap disiplin menjadi cermin karakternya.

Membangun kesadaran dan tanggung jawab serta disiplin bagi petugas polisi dilakukan dalam pembelajaran di sekolah Lemdiklat Polri berbasis Moralitas, Tegas dan Humanis :

1. Dimulai dari hal hal kecil dalam kehidupan sehari hari di asrama pengecekan dimulai setelah bagun pagi, kegiatan olah raga pagi, makan pagi, mengikuti perkuliahan dan pelatihan, makan siang, kegiatan pengasuhan sore hari, makan malam, belajar apel malam sampai istirahat malam semua diatur secara ketat dalam etika peserta didik yang berisi apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan sanksinya.

2. Pola pendidikan dengan model Mentorship / pengasuhan oleh wali kelas dan asisten yang secara terus menerus mendampingi para peserta dididik untuk menemukan karakternya.

3. Pendidikan sepanjang hayat saling asah asih dan asuh walaupun telah selesai pendidikan.

4. Pengajaran tentang dasar sebagai patriot di era milenial.

5. Pengajaran yang berkaitan dengan profesionalisme berbasis kepolisian ilmu kepolisian.

6. Kapita selekta untuk studi kasus, problem solving dan menemukan kebaruan dalam menghadapi issue issue penting yang terjadi dalam masyarakat.

7. Olah jiwa dikaitkan dengan pembinaan spiritual keagamaan.

8. Olah raga dapat dikembangkan sesuai hobi dan kompetensinya di samping itu juga bela diri kendo dan judo dan sebagainya, untuk menanamkan kejujuran keberanian ketangguhan dan rasa percaya diri.

9. Olah Rasa dikaitkan dengan pembinaan seni budaya dan penataan lingkungan yang bersih asri dan ngangeni.

10. Acara tradisi yang menjadi ikon untuk kebhinekaan, penghayatan akan nilai nilai luhur bangsa.

Keutamaan bagi petugas polisi yang humanis peka peduli dan berani bebela rasa akan kemanusiaan merupakan produk dari kecintaan, perhatian, empati, pemberian kepercayaan, dan keteladanan.

 

Artikel Tulisan Karya Kalemdiklat Polri Komjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.