CDL: Akhir Khayat Birokrasi

oleh -709,712 views
oleh

JAKARTA – Salahkah birokrasi yang sekarang ini ada? Atau sudah tidak lagi up to date?

Birokrasi dibangun untuk membagi pekerjaan dalam pelayanan kepada publik agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas prima.

Pilar birokrasi disangga rasionalitas, logika, petugas yang profesional, sistem yang terintegrasi, yang mampu menjembatani dan memberikan solusi.

Hakekatnya adalah agar publik terlayani dengan cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif dan mudah diakses.

Para petugasnya berorientasi kerja dan gaji. Tingkat produktifitas menjadi kebanggaan dan standar bagi kariernya. Apa yang dikerjakan ada standarnya dapat diukur dan diaudit baik di dalam birokrasi maupun dari kepuasan publik atas pelayanannya.

Namun faktanya birokrasi sering malah melilit dan membuat sulit serta berbelit belit. Berurusan dengan para birokrat identik dengan duit.

Tanpa duit jangan harap bisa terlayani dengan baik. Bisa saja malah hilang entah kemana. Kalau ada kritik tentu teriak :” mana buktinya?” Interpretasi refleksi kepercayaan dan bisa dikatakan bagian dari fenomena.

Birokrasi menjadi arena atau lahan atau ajang perebutan dan penguasaan sumber daya yang seakan dilegitimasi.

Para birokratnya berebut jabatan dan kesempatan pada posisi yang dapat mendominasi dan mengangkangi sumber daya.

Bagian yang diidolakan dan di perebutkan, dikategorikan dalam zona strategis. Ada analogi zona basah dan kering. Golongan air mata dan mata air.

Pendekatan hegemoni dan oligarki hingga yang tidak rasional pun menjangkit dan menggurita. Di situlah lahir mafia birokrasi.

Klik, kroni dan berbagai kelompok personal semakin kental dan tajam dalam pengoperasionalnya.

Kaum di zona nyaman akan mempertahankan status quo, senang dengan cara parsial, konvensional dan manual yang berpotensi menyimpang dan menjadi sarang kolusi korupsi dan nepotisme.

Merombak birokrasi menjadi waras bagai putri duyung yang mendamba ekornya untuk menjadi kaki manusia. Golongan waras, ingin yang ideal dengan yang aktual sama.

Berjuang memperbaiki, dapat digolongkan bagian manusia pada putri duyung. Lingkungan kebanyakan yang ingin tetap mempertahankan status quo, dengan cara manual, konvensional dan parsial dapar dikategorikan bagian ekor atau bagian bawah putri duyung.

Golongan manusia jika mengikuti pola ekor atau binatang maka ia akan gila. Sebaliknya golongan ekor tidak mungkin mengikuti manusia.

Tatkala malu ingin memotong atau memisahkan antara golongan manusia dengan golongan binatang, maka akan mati keduanya. Bagai buah simalakama yang dilematis.

Mewaraskan birokrasi bagai mengajak ekor berevolusi menjadi kaki manusia. Mungkin saja yang mengajak waras dianggap gila atau diserang atau bahkan untuk dimatikan, yang dianggap duri dalam daging.

Francis Fukuyama menulis the end of history : the last man yang menggambarkan dunia sudah sampai puncaknya dan akan mengalami kehancuran untuk memulai sejarah peradaban baru.

Mungkinkah analogi Fukuyama digunakan untk the end of bureaucrazy? mungkin saja, karena di era digital tidak ada lagi batas ruang dan waktu.

Dalam pewayangan ruang dan waktu dapat dianalogikan dalam Bathara Kala yang sudah terpisah antara kepala dengan badannya.

Ia menjadi penguasa gelap dan menguasai ruang dan waktu. Namun antara badan dan kepala kala telah dipisahkan agar tidak menghabiskan isi jagat raya ini.

Di dalam ceritera gerhana matahari, digambarkan Bathara Kala menelan matahari. Setelah menelan matahari, katena tidak ada badannya maka matahari akan muncul dan bersinar lagi.

Di era digital yang memangkas Bathara Kala maupun mafia birokrasi adalah sistem online yang saling terhubung dalam sistem elektronik .

Birokrasi yang tersekat sekat dalam labirin yang memusingkan dapat dipangkas dan di terobos dalam sistem pelayanan pintu atau One stop service.

Yang menjadi bagian yang terintegrasi dalam pola back office, aplikasi dan network. Pola ini akan berkembang dalam sistem big data yang apa saja ada sesuai yang dibutuhkan.

Yang bisa dikerjakan dalam sistem elektronik / robotik tidak lagi ditangani manusia. Semakin mengurangi sentuhan person to person untuk menghindari potensi penyimpangan.

Rasionalisasi birokrasi akan menjadi tantangan setiap pemimpin untuk mewaraskan dan mengakhiri kegilaan birokrasi.

Selain itu juga memangkas mafia birokrasi yang menjadi god father nya. Para pemimpin akan diuji nyali melawan naga mafia birokrasi yang sarat kesaktian karena memiliki pangkat, jabatan, uang media , jaringan sosial bahkan massa.

Tatkala pemimpin produk hutang budi maka jangankan melawan pasti kerjanya hanya cium tangan dan bahkan sungkem sambil memberi buku bekti glondong Pangarengan areng.

Pemimpin transformatif yang layak sebagai pejuang dan berani berkorban serta bernyali tinggi dinanti untuk menebas sang naga mafia birokrasi dengan sistem online yang berbasis elektronik.

Tatkala semua sistem dalam birokrasi sudah online maka para mafia tanpa dibunuh akan mati dengan sendirinya dan kegilaan dalam birokrasi dapat diakhiri.

Artikel Tulisan Karya Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.