CDL: Mahir Terpuji Patuh Hukum dan Unggul Refleksi Perilaku Organisasi Lemdiklat Polri

oleh -829,837 views
oleh

JAKARTA – Kualitas Literasi suatu Institusi Terefleksi dari Perilaku Organisasinya.

Literasi yang memadai akan mencerahkan dan mendorong perilaku organisasinya profesional, cerdas, bermoral dan modern. Demikian juga sebaliknya.

Literasi refleksi dari kepemimpinan, administrasi, operasional dan capacity nya.

Pemimpin dengan kepemimpinannya yang peduli pada literasi passionnya pada pencapaian tujuan dengan mengimplementasikan keutamaannya.

Kebijakan pemimpin yang literasinya memadai akan bijaksana bagi keutamaan institusi dan mencerahkan

Membangun literasi pada suatu institusi dapat dimulai dari keteladanan pemimpinnya, pikiran, perkataan dan perbuatannya bagi keutamaannya yang akan diikuti anak buahnya dan menjadi core value.

Core value menjadi spirit membangun yang aktual sesuai dengan yang ideal.

Core value diterapkan melalui model kesadaran, tanggung jawab dan disiplin yang bisa dibuat pada etika kerja yang secara rinci dijabarkan pada Standart operation procedure (SOP).

SOP merupakan jabaran dari:

1.Job description dan Job analysis.

2.Standardisasi keberhasilan pelaksanaan tugas.

3.Sistem penilaian kinerja.

4.Sistem reward and punishment.

5.Etika kerja yang berisi apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan dan sanksi bila melanggar.

SOP menjadi landasan membangun core value sehingga literasi dapat terbangun.

Sebaliknya tatkala SOP diabaikan maka core value antara yang aktual berbeda bahkan bertentangan dengan yang ideal.

Membangun literasi sejatinya membangun sumberdaya manusia sebagai aset institusi agar dengan kesadaran, tanggung jawab dan disiplin bekerja dengan profesional, cerdas, bermoral dan modern.

Membangun literasi merupakan passion untuk merubah mind set yang sejatinya juga sebagai landasan reformasi secara kultural. Hal tersebut dapat dimulai dari:

1.Hukum dan aturan aturannya hingga SOP nya.

2.Infrastruktur dan sistem sistemnya yang dapat meminimalisir kesempatan terjadinya penyimpangan atau penyalahgunaan kewenangan.

3.SDM yang akan mengawakinya.

Literasi refleksi perilaku organisasi terlihat dari :

1.Pemimpin dan Kepemimpinannya.

2.Kebijakan kebijakannya.

3.Core value nya sebagai basis budaya organisasi.

4.Aturan, SOP hingga Etika kerjanya.

5.Tingkat kualitas Kinerjanya.

6.Tingkat kualitas pelayanan publiknya.

7.Tingkat transparansinya.

8.Tingkat akuntabilitasnya.

9.Tingkat dukungan dari mitranya (Soft power dan Smart power nya).

10.Tingkat kualitas kepercayaan publik.

Polisi dapat dilihat sebagai petugas, sebagai fungsi maupun sebagai institusi melaksanakan tugasnya melalui pemolisian. Ranah tugasnya ada pada birokrasi maupun masyarakat.

Pemolisian dengan pendekatan perilaku organisasi dilihat tindakan yang dilakukan pada tingkat manajerial maupun operasional dengan atau tanpa upaya paksa untuk mewujudkan dan memelihara keteraturan sosial dengan adanya jaminan keamanan maupun rasa aman dalam masyarakat.

Pemolisian dapat berbasis wilayah,berbasis fungsi dan berbasis dampak masalah.

Pemolisian diimplementasikan untuk melayani kepada publik.

Institusi yang melaksanakan pelayanan kepada publik merupakan suatu profesi yang dilandasi profesionalisme dan ketulusan hati.

Semua aktifitas penggunaan kewenangan dan kekuasaan nya diawasi dibatasi dan dipertanggung jawabkan.

Tanggung jawab kepada publik dalam penggunaan kewenangan dan kekuasaan meliputi secara:

1.Moral

2.Hukum

3.Administrasi

4.Fungsional

5.Sosial

Perilaku organisasi pelayanan kepada publik merupakan upaya untuk memberikan pelayanan prima di bidang:

1.Keamanan

2.Keselamatan

3.Hukum

4.Administrasi

5.Informasi

6.Kemanusiaan

Lemdiklat Polri sebagai institusi penyelenggara pendidikan dan pelatihan Polri yang melakukan proses pembelajarannya melalui dialog peradaban yang berbasis moral, dan literasi dalam mengkaji dan mengembangkan ilmu kepolisian untuk mencapai hasil didik polisi yang mahir, terpuji, patuh hukum dan unggul.

Proses pembelajaran di Lemdiklat Polri dimulai dari para gurunya sebagai kunci dari perilaku organisasinya.

Keutamaan guru di Lemdiklat Polri

1.Menginspirasi dan menjadi role model atau memberikan contoh dalam pikiran perkataan dan perbuatannya.

2.Menstimuli untuk berbuat baik dan benar.

3.Memotivasi semangat dalam proses pembelajaran.

4.Menanamkan keutamaan sebagai polisi yang profesional, cerdas, bermoral dan patuh hukum.

5.Mentransformasi melalui dialog peradaban.

6.Tegas namun penuh welas asih.

7.Berbasis moralitas dengan kesadaran, tanggung jawab dan disiplin.

8.Mendidik dan melatih menghadapi situasi krisis (Emergensi maupun kontijensi).

9.Berpikir kritis, kreatif dan inovatif.

10.Menyiapkan menjadi siapa sebagai” Polisi yang transformatif “.

Dialog peradaban merupakan model transformasi dalam membimbing maupun mencerahkan kepada para peserta didik agar mampu menemukan melaksanakan keutamaan polisi dalam pemolisian nya.

Polisi dalam pemolisian nya dituntut sehat semangat dan smart dengan jiwa bahagia yang mencerahkan bagi kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban. Semua itu dapat dicapai dengan membuka ruang dialog peradaban bagi semakin manusiawinya manusia.

Menyiapkan calon pemimpin di masa depan di Sespim Lemdiklat Polri melalui suatu “Dialog Peradaban”.

Keutamaan pembelajaran di Lemdiklat Polri dengan mentransformasi dan mencerahkan atas keutamaan kepolisian (Kemanusiaan, Keteraturan sosial dan Peradaban) yang dapat dikatakan sebagai penjaga kehidupan, pembangun peradaban dan pejuang kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.