Karo Bindiklat Lemdiklat Polri: Literasi Media dan Bahan Rujukan Pembelajaran

oleh -3,191,653 views
oleh

JAKARTA – Dalam penulisan Karya Ilmiah kualitas dan bobot tulisannya, tidak terlepas dari Literasi dan Bahan rujukan dalam penulisan.

Penggunaan dan penerapan teori dan konsep yang dapat dipertanggung jawabkan dari pakar, profesional
atau ahli merupakan.

Landasan dan sekaligus pembanding untuk mengembangkan suatu (Berkembangnya) ilmu Pengetahuan.

Demikian juga dalam proses pembelajaran, seorang pendidik dalam melakukan transformasi Ilmu / pengetahuan tanpa di dukung literasi dan rujukan yang cukup, hanyalah sebuah cerita atau kisah yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, hanya sekedar imajinasi atau persepsi saja. dalam etika keilmuan hal ini tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Bahkan jika dipaksakan suatu konsep dan ungkapan (Lisan/tertulis) yang tidak didukung dengan literasi dan rujukan yang cukup jika di implementasikan sangat berbahaya.

Bayangkan jika yang di ungkapkan (Tertulis maupun lisan) terkait dengan masalah kedokteran bisa menjadi malapraktik, jika dalam bidang gizi dapat menjadi meracuni, dalam kehidupan sosial dapat menjadi ketidakteraturan, dan sebagainya.

uraian di atas hanyalah sebagai pengantar, untuk memulai sebuah ulasan bagaimana penerapan Literasi Media (LM) dan Bahan Rujukan Pembelajaran (BRP) dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan di Polri.

beberapa dan pengalaman fakta yang sy ketahui, (Anggap saja penulis adalah peneliti dengan menggunakan metode pengamatan terlibat) adalah pembelajaran yang dilakukan dalam lingkungan pendidikan (Khususnya diktuk) sebagian besar masih mengandalkan hanjar terpusat.

Yang pelaksanaan nya, hanjar tersebut merupakan kamus dan buku sekaligus pedoman dan satu satunya buku yg digunakan dalam pembelajaran. bahkan sampai kelihatan kucel tanpa ada buku pendamping.

Jika di dalam perkuliahan dan pelajaran pada umumnya buku hanjar di dampingi dengan buku utama atau bacaan wajib, pada dasarnya adalah sebagian bahan rujukan, BRP, yang dengan BRP tersebut akan mampu mendukung dan menjelaskan konsep konsep yang tertuang dalam buku hanjar.

hal ini juga bagian dari penerapan metode belajar dengan pendekatan deep learning.

LM dan BRP diharapkan akan dapat menjelaskan secara lengkap setiap uraian yang tertulis dalam hanjar, karena ada sumbernya.

Dinamika waktu Pendidikan pada Polri (khususnya Diktuk dan sebagian Bangpes) menunjukkan bahwa penggunaan LM dan BRP tidak memberikan waktu yang cukup, oleh karena itu wacana menyiapkan Literasi Centre akan sangat membantu.

BUDAYA MEMBACA.

Di Indonesia sendiri , tingkat literasi masyarakat  masih sangat rendah, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah.

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Kondisi kemampuan literasi siswa Indonesia berdasarkan riset yang dilakukan UNESCO pada 2022, menyatakan bahwa minat membaca di Indonesia masih berada pada peringkat ke-60 dari 70 negara. Posisi ini menyatakan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia semakin rendah.

Hal tersebut sudah dibuktikan melalui berbagai survei internasional.

KONSEKUENSI PENYUSUNAN HANJAR, KUALITAS GADIK DAN KEMAUAN SERDIK BERBASIS LM DAN BRP.

menghadapi kondisi yang demikian, sudah saat nya bahwa untuk mendukung tercapainya Out put dan Out come hasil didik, sangat diperlukan metode peningkatan kualitas Gadik dan Serdik dalam proses pembelajaran melalui LM dan BRP.

Implementasinya bisa di masukkan dalam kegiatan pengasuhan yang berbasis Vokasi.

Diharapkan pendidikan dan pelatihan, dengan menggunakan penerapan LM dan BRP melalui metode Deep learning diharapkan dapat melakukan transformasi Ilmu pengetahuan (Ilmu Kepolisian) lebih mendalam kepada peserta didik.

(Argo Lawu, Balapan-Gambir, 26.01.2025).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.