JAKARTA – Pemimpin di Era Kenormalan baru selain Mahir, Terpuji, Patuh Hukum dan Unggul, juga dituntut memiliki keberanian dan Kemampuan menghadapi Fakta Brutal dalam situasi Emergensi maupun Kontijensi”.
Pelatihan Dasar Brimob maupun kegiatan Ulet bukan untuk mem brimob kan para mahasiswa, melainkan menyiapkan para mahasiswa STIK yang selain untuk menjadi ilmuwan juga sebagai pemimpin.
Mengapa pemimpin begitu berperan dalam suatu institusi? Analoginya sebagai berikut :
” Singa dipimpin kambing akan mengembik sebaliknya kambing dipimpin singa akan mengaum “.
Das Brimob maupun Ulet untuk menanamkan jiwa seorang pemimpin yang berkarakter. Waktu transformasi singkat tentu sulit untuk mampu merubah sesuatu dengan cepat, namun setidaknya penanaman nilai – nilai Keindonesiaan, Ke bhayangkara nan, Kepemimpinan, menjadi bagian terpenting.
Indonesia yang masyarakatnya majemuk potensi konflik sosial yang besar dan Indonesia juga bagian kawasan rawan bencana, maka para pemimpin kepolisian di berbagai lini diharapkan memiliki kemampuan sebagai pemimpin yang transformatif.
Nilai – nilai dan kemampuan pemimpin yang transformatif dan tangguh melalui latihan Dasar Brimob maupun Ulet dengan tujuan agar para Sarjana Alumni STIK mampu mengimplementasikan Emergency maupun Contigency policing dalam berbagai situasi dan kondisi krisis sekalipun dalam jiwa pemimpin dengan kepemimpinan :
1. Rendah hati.
2. Peka peduli respek dan bebela rasa kepada manusia dan kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban.
3. Memiliki mimpi memajukan apa yang dipimpinnya menjadi unggulan.
4. Peduli terhadap masalah sosial kemasyarakatan yang sering diabaikan dalam kehidupan sehari hari.
5. Berani dan mampu menghadapi fakta brutal dalam situasi dan kondisi krisis.
6. Memiliki keberanian untuk belajar dan memperbaiki kesalahan di masa lalu.
7. Siap menghadapi tuntutan tantangan harapan bahkan ancaman di masa kini.
8. Mampu menyiapkan masa depan yang lebih baik.
9. Berpikir strategis yang mampu memberikan pengaruh atau dampak luas walaupun dalam kondisi tertekan dan serba kekurangan.
10. Menginspirasi memotivasi memberi solusi dan siap menjadi sahabat teman curhat dan sebagainya.
Masih banyak lagi yang dapat digali dari nilai nilai kepemimpinan di atas, yang paling berat adalah untuk rendah hati. Mudah diucapkan namun amat sulit dilakukan karena kelekatan dan kecanduan apa yang dinamakan, Egois, merasa paling, rasa ingin dominan dan mendominasi, pandang enteng, serakah, susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang, kebiasaan mencela bahkan melecehkan. Kecanduan hal hal tersebut membuat sulit dan berat untuk rendah hati.
Satu mulut, dua mata dan dua telinga
Melihat mendengar lebih diutamakan daripada berbicara apalagi dengan akurasinya yang tinggi. Ingin paling dari menonjol sampai paling dikasihani merupakan kelekatan yang berat dihilangkan.
Para kurawa saat dipanggil kakak tertuanya Duryudana selalu memamerkan dirinya dengan mengatakan kulo … kulo ….kulo…kulo… kulo yang artinya saya.
Tatkala cakap lebih banyak daripada mendengar atau mengamati maka kejumawaan yang menonjol daripada kebijaksanaanya. Seringkali siapa lebih penting dari apa isi pesan yang akan diberikan.
Bungkus seringkali diutamakan dari pada isi. Ayu kelontongan e yen kentir opo gunane. Cantik fisiknya jika gila apalah gunanya.
Disini lah kewarasan seorang diuji benarkah dirinya ini waras benarkah dirinya bukan sekedar lempung katok an.
Pemimpin yang waras akan menemukan keutamaan dalam menegakkan membela kejujuran kebenaran dan keadilan sekalipun dalam berbagai tekanan, kondisi yang rumit dan serba terbatas.
Untuk mendidik pemimpin dengan kepemimpinan yang adil dan bijaksana dasarnya adalah kejujuran.
Kejujuran refleksi kerendahan hati yang tulus bukan pura pura atau sekedar memakai topeng atau ANS Asal Ndoro Senang atau safety player melainkan benar tulus dan berani demi kebenaran dan keadilan.
Pemimpin harus berani seperti lilin, terus menerangi walau dirinya meleleh. Pemimpin, berani berkorban bahkan menanggung beban kesalahan.
Karena pemimpin, bukan sekedar mengatakan pimpinan saya ambil alih tetapi juga berani bertanggung jawab dalam kondisi apapun tidak menyalahkan, tidak mencari cari kesalahan, melainkan mampu belajar dari kesalahan.
Bagi pemimpin bukan melempar masalah dan tanggung jawab melainkan bertanggung jawab, solutif dan kreatif.
Pemimpin adalah sumber energi, sumber inspirasi yang menjembatani memberi solusi membela yang lemah, yang termarjinalkan sekalipun.
Tugas pemimpin untuk memanusiakan, mengangkat harkat dan martabat manusia, untuk semakin manusiawinya manusia.
Pemimpin iku ratu maka dadi ratu iku kudu ono lelabuhane ora ono lelabuhane ora ono gunane ratu iku anane mung winates dadi kawulo tanpo winates.
Menjadi pemimpin tatkala tidak membawa manfaat tidak ada gunanya, menjadi pemimpin ada batasnya dan menjadi rakyat sepajang hayat.
Pemimpin itu senopati ing ngalogo, sayidin panoto gomo Khalifatulloh walau dalam berbagai tekanan dan menghadapi fakta brutal sekalipun, tetap waras cerdas bermoral dan modern untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Catatan : Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.
Kalemdiklat Polri




