Ilmu Kepolisian Adalah Ilmu Sosial, Pendidikannya Tidak Boleh Melupakan Kearifan Lokal

oleh -2,735,873 views
oleh

CIPUTAT – Setiap daerah tentu memiliki budaya dan kearifan lokal yang menjadi Norma dan diyakini kebenarannya untuk di jalankan sebagai tatanan kehidupan. Kearifan lokal sering diangkat sebagai salah satu media solusi dalam kehidupan sosial.

Bagi Polisi yang bertugas menciptakan menjaga keteraturan sosial tentu perlu memiliki kemampuan te tang muatan kearifan lokal dimana dia ditugaskan, inilah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan pendekatan “Local boy for local job”.

Agar mereka menjadi bagian yang langsung bersinergi dengan Social community yang tentunya sudah di pahami, sehingga menjadi pendukung untuk pemecahan masalah sosial dengan berbagai solusi.

Mari kita lihat salah satu buah kearifan lokal dari Jawa berupa Petuah yang syarat dengan kandungan filosofisnya.

OJO KAGETAN, OJO GUMUN NAN, OJO ALEMAN, OJO GELEMAN, OJO DUMEH

Munculnya Artificial Intelegensi (AI) yang dapat mengerjakan dan menjawab apa saja sesuai dengan keinginan sang pembuat.

Menyebabkan falsafah Jawa yang memiliki pesan mendalam terhadap kehidupan, tetapi sudah mulai ditinggalkan.

Termasuk di antaranya adalah nilai falsafah Jawa “ojo kagetan, ojo gumun nan, Ojo Aleman, Ojo Geleman dan ojo dumeh”.

Dalam bahasa Indonesia dapat dimaknakan sebagai. “Jangan mudah terkejut, jangan mudah takjub, Jangan Manja, jangan mudah ingin memiliki dan jangan sombong”.

Kata kata tersebut memiliki Falsafah yang dapat menjadi suatu bekal manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia, yang mengharuskan menjalin hubungan sosial dan menghadapi masalah kehidupan. Siapapun dia, apapun statusnya.

OJO KAGETAN (Jangan mudah terkejut), maknanya adalah memberikan peringatan kepada manusia.

Bahwa segala yang terjadi di kehidupan sudah digariskan oleh Tuhan, termasuk segala hal baru yang membuat manusia senang dan sedih. Ojo kagetan adalah termasuk wujud seorang hamba yang tawakal dengan Sang Maha Pencipta.

Falsafah ojo kagetan memberikan pelajaran tentang sikap yang sepantasnya dalam mendapatkan suatu kesenangan maupun kesedihan.

Pada intinya, ojo kagetan memberi pelajaran dan mengingatkan bahwa Segala sesuatu itu atas kehendak Yang Maha kuasa sehingga bersikap positif terhadap ketentuan dan takdir Tuhan.

Bagi seorang Polisi terkejut boleh saja, namun di balik itu jika jika Polisi memahami data dan fakta yang diperoleh sebelum dan saat terjadi maka.

Tidak akan mengagetkan, justru berbekal dengan informasi akan mencari solusi untuk menangani.

OJO GUMUNAN (Jangan Mudah Takjub), memberikan pelajaran kepada manusia bahwa jangan mudah terobsesi dengan sesuatu.

Sesungguhnya obsesi membuat pikiran manusia terkungkung dengan suatu hal tertentu. Akibatnya, mudah menganggap sesuatu yang berbeda dengan persepsinya adalah hal yang salah dan keliru.

Hal tersebut membuat kesempitan berpikir yang menghambat manusia untuk berkembang dengan segala dinamika di alam raya.

Bahwa segala yang terjadi pasti ada dasar peristiwa atau prosesnya. Bagi mereka yang. berpikir Positif tentu akan mencari tahu Mengapa bisa begini dan mengapa bisa begitu”.

Oleh karenanya, OJO GUMUNAN adalah sebuah konsep untuk menyikapi peristiwa hidup dengan bijak, arif, jauh dari prasangka, mengambil sikap yang wajar sesuai dengan proporsinya, dan tidak berlebihan, tidak Hedon.

OJO ALEMAN
Ojo Aleman pada dasarnya merupakan ajaran agar manusia tidak lemah, mau bekerja keras, tidak mudah menyerah. Manusia tidak diajarkan untuk bersikap manja.

Minta selalu diperhatikan dan jika tidak dituruti merajuk, putus asa, atau bahkan menyerah. Filosofi dari ojo Aleman adalah agar manusia dapat mandiri dan tidak tergantung pada siapapun.

Bahkan ketergantungan kepada Allah meski harus melakukan upaya dan ikhtiar terlebih dahulu.

OJO GELEMAN.
Falsafahnya adalah mengajarkan agar manusia tidak tamak, rakus, Banyak keinginannya, yang menyebabkan orang lupa diri hanya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Kemauan manusia tidak ada batasnya, oleh karena itu Falsafah ini mengajarkan untuk menahan nafsu.

Falsafah Ojo Geleman erat sekali dengan Falsafah lain yaitu “MELIK NGGENDONG LALI” yang bermakna bahwa orang yang bernafsu ingin memiliki (Melik) menyebabkan dia lupa, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya (Nggendong Lali).

Bagi Aparat atau penguasa hal ini akan sangat membahayakan karena dapat mendorong perbuatan “KORUPTIF” untuk meme ubi segala keinginannya (Sebanyak Banyaknya).

OJO DUMEH (Jangan Sombong), memberikan pelajaran pada manusia bahwa rasa sombong hanya kenikmatan semu. Merasa “Si Paling” Dumeh Kuoso, Dumeh pinter, Dumeh Sugih, Dumeh Cedak pejabat dan sebagainya. Hal ini menyebabkan seseorang Merasa di atas manusia lainnya.

Falsafah ini sebenarnya diimbangi dengan “Ning nduwur langit isih ono langit” Di atas langit masih ada langit.

Sebuah metafora yang tepat untuk mendeskripsikan falsafah Jawa ojo dumeh. Sikap ojo dumeh ini Pada intinya mengajarkan untuk menjadi manusia yang rendah hati dan menghargai sesama.

Sehingga muncul pesan falsafah yang berhubungan. yaitu, Nek Landep ojo nakoni (Tajam jangan melukai), nek Pinter ojo nggurui (Pandai jangan menggurui), nek banter ojo ndisiki (Kencang jangan mendahului), Nuruti tanpa nyalahke (Memberi tahu tanpa menyalahkan) dan sebagainya.

ILMU KEPOLISIAN DAN KEARIFAN LOKAL

Dalam dunia pendidikan Falsafah yang muncul dari kearifan lokal sebaiknya tidak boleh ditinggal.

Terlebih lagi dalam pendidikan kepolisian . Sosiologi dan Antropologi yang sarat dengan kehidupan masyarakat sosial dengan kondisi budayanya merupakan bagian atau salah satu pilar Ilmu kepolisian.

Di samping Hukum Kepolisian, Administrasi Kepolisian, Teknologi Kepolisian dan Forensik Kepolisian.

Sudah semestinya para pengelola pendidikan di Kepolisian memahami hal ini, karena Ilmu kepolisian adalah Ilmu Sosial, tugas Polisi berada pada lingkungan sosial, dan kehadirannya untuk mewujudkan dan menjaga keteraturan sosial. (Str)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.