JAKARTA – Lembaga lembaga publik sebagai punggawa, penyelenggara negara, melayani merupakan suatu kebanggaan dan keberhasilan memenuhi kewajiban. Kewenangan kekuasaan merupakan sarana untuk melayani bukan sebaliknya.
Kewenangan dan kekuasaan diberikan untuk melayani. Tatkala sebaliknya yang justru minta dilayani. Orang orang yang selalu minta dilayani, dipahami maka budinya akan menguap lenyap.
Orang orang yang mampu melayani adalah orang orang yang bahagia karena mendahulukan kewajiban daripada hak sebagai wujud tanggung jawabnya.
Manusia pada umumnya minta dipahami, dilayani. Sikap narsis atas akuismenya memamerkan aku, aku dan selalu aku.
Berat untuk memuji mudah mencela. Integritas lenyap dan memposisikan dirinya lebih dari yang lainnya. Inginnya selalu terbang tinggi namun tidak mampu melihat ke bawah. Tidak peduli kepada yang lemah, menderita atau termarjinalkan.
Selain itu, Melayani dasarnya dengan membangun kesadaran bagi suatu pelayanan, yang merupakan proses bagi perwujudan suatu tanggung jawab.
Bukan karena ketakutan, bukan karena keterpaksaan atau karena pamrih akan mendapatkan sesuatu. Melainkan kemampuan melepaskan diri dari ego atau akuisisi.
Konsep melayani adalah seperti lilin yang terus menerus menerangi walau dirinya meleleh. Manjing ajur anjer, seperti garam yang menggarami hingga lebur menyatu.
Melayani merupakan keberanian dan kemampuan menanggalkan sikap dan sifat serakah.
Melepaskan sikap ego dan candu narsis yang menyebabkan mudah sakit hati, mudah tersinggung mudah menghakimi dan selalu mengeluh menuntut sesuatu.
Pengorbanan dalam melayani menunjukan kepekaan, kepedulian dan bela rasa kepada sesama bagi semakin manusiawinya manusia.
Kejumawaan akan sarat dengan kepura puraan, kemunafikan. Topeng basa basi, menipu diri sendiri menjadi pemandangan lumrah. Tak mampu lagi membedakan mana kambing mana anjing.
Hakekat melayani adalah anti premanisme dan bertentangan dengan pemerasan, penyuapan permainan ilegal.
Kewenangan, kekuasaan untuk memberdayakan sumber daya, tatkala tidak dijiwai untuk melayani maka kuasanya akan menyengsarakan banyak orang.
Kemampuan merendahkan diri untuk memahami, melayani, melindungi dan mengayomi merupakan suatu pengorbanan.
Melayani sering menjadi jargon atau slogan, mungkin judul saja, faktanya malah sebaliknya. Melayani merupakan kemampuan merendahkan diri untuk memahami bukan meminta dipahami.
Melayani merupakan suatu ilmu paling tinggi dan paling sulit, karena untuk bisa melayani harus bisa berdamai dan mengalahkan dirinya sendiri.
Melayani merupakan sikap semeleh mampu bersyukur atau mensyukuri bahkan mampu menikmati walau dalam kondisi sesulit apapun.
Melayani, refleksi atas ketulusan hati dengan penuh kesadaran tanpa pamrih dan memberikan sesuatu yang terbaik.
Melayani merupakan sesuatu yang manusiawi dalam memanusiakan sesamanya, dengan kemampuan melepaskan belenggu semu keduniawian.
Melayani dengan tulus hati berdampak pada empowering, pencerdasan, penguatan sekaligus melindungi dan mengayomi.
Orang orang yang mampu melayani merupakan orang merdeka dan bahagia jiwanya.
Catatan Kalemdiklat Polri Komjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si




