JAKARTA – Pemimpin dalam kepemimpinannya sangat rentan menjadi tamak, jumawa dan amarah.
Maka perlu adanya sistem kontrol dan pengingatnya untuk membatasi dan mengawasi kekuasaan maupun kewenangan.
Ketamakan Ke jumawaan dan Amarah sang pemimpin terefleksi dari pikiran, perkataan dan perbuatannya yang tertuang dalam kebijakannya.
Pemimpin yang jumawa akan tamak dan penuh amarah kebijakannya jauh dari bijaksana.
Pemimpin itu pemikir dan terus berjuang bagaimana mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Karena Pemimpin itu kepala bukan ekor.
Integritas sang pemimpin terefleksi dalam pikiran, perkataan, perbuatan dan kebijakannya.
Pemimpin yang lupa akan semena mena. Pemimpin yang bijak, refleksi orang bajik, demikian juga sebaliknya. serta Pemimpin yang lupa kebijakannya jauh dari keutamaannya.
Karya Kalemdiklat Polri, Komjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si




