Karo Bindiklat Lemdiklat Polri: Machiavelism dan Pendidikan

oleh -1,129,540 views
oleh

JAKARTA – Strategi Lilin., Lilin adalah benda yang dapat di nyalakan dan memberikan pijar berupa api kecil tampak Indah dan terang ditengah kegelapan, benda ini sering digunakan untuk acara tertentu, yang dapat memberikan suasana religi, romantis dan artistik. Meski sebenarnya fungsi lilin adalah untuk penerangan dalam keadaan darurat ataupun dalam kegelapan sehingga pada radius tertentu terlihat terang.

Namun keberadaanya banyak menginspirasi setiap orang dari berbagai aspek, seperti tersebut di atas. Ada satu paham dan menjadikanya sebagai analogi Strategi.

STRATEGI LILIN

Strategi ini berbicara bagaimana mengendalikan musuh, dengan analogi pengendalian api. Adalah Machiavelli, Niccolò Machiavelli seorang diplomat dan politikus asal Italia yang juga seorang filsuf.

Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans.

Konsepnya tentang kebebasan menjadikannya menemukan berbagai strategi bagaimana merangkul musuh agar mengikuti dan tidak membahayakan dan tetap dapat di kendalikan.

Meski konsep berpikirnya tentang Politik, namun teorinya bersanding erat dengan kegiatan intelijen bagaimana menggalang, bagaimana mengekang, mengendalikan, bagaimana dan bagaimana menghancurkan.

Lilin adalah “sumber api” yang apabila tidak dikendalikan atau dijauhi dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Oleh karena itu keberadaan apinya harus selalu dekat dengan penggunanya, sehingga dalam keadaan tertentu dapat ditiup jika sudah tidak diperlukan.

namun jika keberadaannya jauh dapat membakar lingkungan sekitar dan menjadikan api semakin besar sehingga susah dipadamkan dan membahayakan.

strategi lilin ini dalam berbagai aspek (Seperti politik dan keamanan) sering digunakan oleh mereka ya g berusaha merebut, mempertahankan kekuasaan) lawan politik ataupun musuh politik adalah api.

Mereka adalah api yang harus didekati dan di disain sebagai sebuah lilin, diberi tempat yang bagus, dinyalakan dan tetap berdekatan dengan sang “Penyala”
Kenapa harus ditempatkan ditempat yang bagus?.

Agar terlihat indah, elegan, mahal dan dekat. padahal mereka apa. pupus dengan sendiri ya saat tubuhnya mulai habis, sementara nyala dan sinarnya hanya kecil, namun terlihat dari kejauhan.

tanpa sadar lilin sedikit demi sedikit akan hancur dan mati. Sang lawan yang merasa diberi tempat indah, di tempatkan dekat berada pada penggunanya merasa sangat dekat dan dibutuhkan padahal tanpa sadar dia dibatasi, dikendalikan dan dihancurkan.

Bahaya yang tanpa disadari sering dialami bagi mereka (Para kaum kebebasan dan pemilik idealis) yang sebenarnya mampu menyalakan kobaran api menjadi lebih besar, karena merasa dekat penguasa, karena ditempat yang bagus ini lah strategi Lilin.

Dalam kehidupan bernegara, menurut Machiavelli hal ini sering terjadi, namun kadang para tokoh idealis yang mulai goyah dengan kedudukan dan kedekatan kekuasaan mereka lupa. tidak jarang hal itu dialami oleh tokoh tokoh dalam suatu bangsa. Strategi apapun adalah baik, tergantung dari posisi mana kita memandangnya. “The man behind the gun”.

PADA PENDIDIKAN DIAJARKAN KEUTAMAAN MORAL

Pendidikan Mengajarkan teori dan strategi. belajar ilmu apapun selalu didasari pada teori teori yang diyakini menjadi dasar dan literasi dari sebuah ilmu.

Oleh karena itu pada setiap Ilmu pengetahuan selalu landasi Teori (Yang secara kaidah keilmuan dan secara akademis dapat di pertanggung jawabkan), demikian juga dalam sebuah proses pembelajaran.

Penggunaan teori dan strategi apapun selama berada pada mereka yang bermoral maka akan memberikan kemanfaatan.

Berbagai teori dan strategi di berikan pada setiap pendidikan agar mereka yang belum tahu menjadi tahu dan yang belum mengerti menjadi mengerti dan digunakan untuk kebaikan dan bukan kejahatan. Keutamaan Pendidikan adalah pada keberhasilan Moral yang ditanamkan.

Keberhasilan pendidikan bukan pada di nyatakan nya selesai sebuah pendidikan tetapi jauh kedepan ketika mereka memegang kekuasaan dan jabatan.

Saat itulah baru dibuktikan bahwa pendidikan telah dipahami dan tertanam saat dengan kekuasaan dan jabatan yang bersangkutan tidak melakukan kejahatan.

Keberadaan ilmu berujung bagaimana aksiologi dan kemanfaatannya bagi manusia. tatkala Ilmu digunakan dengan menyalahgunakan maka imu tersebut merupakan sarana kedzaliman.

Artikel Karya Brigjen. Pol Dr. Susilo Teguh Raharjo, M.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.