Cinta Guru, Manipulatif Psikologi dan Pendidikan Polisi

oleh -621,088 views
oleh

JAKARTA – Kesedihan Guru mungkin sama dengan kesedihan orang tua tatkala melihat daya asuhannya tidak berbudi dan tidak berakhlak bahkan tidak memberi manfaat bagi masyarakat.

Ilmu yang diberikan mungkin masih dapat terus dipelajari sampai kapanpun, namun saat budi pekerti semakin jauh dari Akhlak dan moral maka sejatinya terjadi kegagalan dalam pendidikan. Kemanfaatannya tidak dirasakan bahkan sebaliknya membawa kemudhorotan.

Dalam dunia Pendidikan peran guru adalah keutamaan kedua setelah orang tua. Pembelajaran terdekat adalah orang tua di rumah dan pembelajaran terdekat adalah guru saat berada di sekolah.

Orang tua pasti tahu bagaimana karakter dan watak anaknya, demikian juga, seorang guru yang perhatian denga muridnya akan memahami perilaku sikap dan kepribadiannya.

Karena besarnya peran guru, tidak salah jika saat kita berdoa selalu menyebut nama orang tua dan guru untuk dimohonkan ampunan dosa.

Memahami akan hal tersebut, dalam pendidikan, seorang guru perlu mengetahui kondisi Psikologi anak didiknya.

Dalam kondisi positif keadaan psikologi seorang murid akan terlihat bagaimana dia menunjukkan adab dan moral serta menghargai kepada seorang guru sebagai pengganti atas keberadaan orang tua, dan menunjukkan bahwa pendidikan yang telah diterima tar internalisasi dengan baik.

Dalam kondisi kurang tepat keadaan psikologi seorang peserta didik justru kontraproduktif dengan apa yang telah guru ajarkan. (Tidak jarang seorang murid menunjukkan perilaku tidak terpuji kepada gurunya, apalagi bila kondisi orang tua yang permisif dengan pelanggaran dan protektif berlebihan kepada anak nya)

Menyoal kondisi di atas sebagai seorang guru perlu mengetahui berbagai kondisi Manipulatif Psikologi dari anak didiknya agar dapat melakukan terapi dan langkah pembelajaran yang dapat merubah kondisi tersebut melalui pendidikan di sekolah.

Terdapat beberapa kondisi Manipulatif psikologi pada murid yang harus diketahui oleh guru.

Kondisi manipulatif psikologi ini jika tidak tertangani dengan baik akan menjadikan serdik sebagai embrio dan cikal bakal kerusakan akhlak dan moral, dan pada ujungnya menjadi virus generasi muda yang menyedihkan.

Playing Victim, Adalah suatu kondisi seseorang bila membuat kesalahan akan menimpakan kepada orang lain dan membuat situasi seolah olah dirinya sebagai korban.

Playing victim bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti trauma masa lalu, kurang percaya diri, pengkhianatan, atau kesulitan dalam menyelesaikan konflik.

Seorang guru tidak boleh terjebak dengan gaya playing victim tersebut, antisipasinya dapat dengan memberikan perhatian, dan rasa empati yang proporsional, memotivasi sang murid agar sadar tidak semakin terjerumus ke dalam pola tindakannya, dan jika perlu membantu mencarikan solusi atas masalah yang dihadapinya.

Guilt Stripping, adalah suatu kondisi psikologi seseorang Suka mengungkit pengorbanan yang telah dilakukan agar orang lain merasa bersalah. Perilaku ini bisa dilakukan secara verbal atau nonverbal, dan sering kali digunakan untuk mengontrol emosi dan perilaku orang lain.

Agar tidak menjalar dan semakin terbiasa, seorang guru dapat melakukan beberapa cara untuk mengatasinya.

Kenali tanda tandanya dan waspada terhadap komentar yang dapat merendahkan, ungkapan- ungkapan rasa bersalah yang berlebihan, serta adanya perilaku yang menuntut.

Meski tetap berkomunikasi namun harus dibatasi interaksi dengan orang yang sering melakukan guilt trip ini.Sesekali lakukan dan Sebutkan batas dengan menjelaskan bahwa tidak akan mengizinkan orang lain membuat dia merasa bersalah untuk mencapai tujuan mereka. Kumpulkan teman-teman atau orang terdekat serta keluarga dan bicarakan untuk dapat memberikan dukungan dan saran.

Love Bombing, yaitu suatu kondisi Psikologi seseorang Suka berkata dan berperilaku manis kepada orang lain supaya bisa dengan mudah mendapatkan simpati dan akhirnya menguasai.

Hal ini merupakan bentuk manipulasi emosional di mana seseorang memberikan kasih sayang dan perhatian yang berlebihan pada tahap awal hubungan untuk menciptakan kedekatan dengan membangun ketergantungan dan kepercayaan pada diri sendiri. Tujuannya adalah untuk membuat orang lain (Guru) merasa sangat terikat dan simpati berlebihan kepadanya.

Triangulation Suka melibatkan orang lain dalam suatu masalah, setelah itu akan mempengaruhi orang lain agar membenci seseorang.

Triangulasi sering terjadi karena disebabkan beberapa hal , seperti
Konflik antara dua orang, Ada ketidaksepakatan atau masalah antara dua pihak (Misalnya, orang tua).

Pihak ketiga dilibatkan Salah satu atau kedua pihak melibatkan anak dalam diskusi atau menyampaikan keluhan mereka.

Anak merasa terperangkap. Anak merasa terbebani, merasa harus memilih pihak, atau merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut.

Dampak dari kondisi manipulatif ini adalah timnya pecah belah dari sebuah kelompok dalam sebuah lingkungan. oleh karenanya seorang guru dalam mengelola kelasa harus waspada tentang kondisi manipulatif psikologi seperti ini.

Gas Lighting suatu kondisi dan bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan seseorang untuk membuat korban merasa ragu atas realitas yang terjadi, ragu atas persepsi, dan bahkan terhadap kewarasannya sendiri.

Pelakunya sering menggunakan berbagai cara, seperti menyangkal kenyataan yang dialami korban, mengubah cerita, atau menyalahkan korban atas kesalahan yang sebenarnya dilakukan pelaku.

Gejalanya menunjukkan seseorang Suka menyangkal kejadian yang jelas atau memberi informasi yang salah, tujuannya agar orang lain bingung atau ragu ragu.

Atas kondisi ini seorang guru dapat melakukan langkah, penting seperti Memperhatikan pola perilaku orang yang melakukan gaslighting. Mencari dukungan dari orang lain yang dapat dipercaya.

Membuat batasan dengan pelaku gaslighting, dan Jika perlu, cari dan gunakan bantuan profesional seperti psikolog atau konselor.

Mirroring Dalam psikologi, mirroring adalah teknik meniru perilaku seseorang, seperti bahasa tubuh, gaya bicara, atau postur tubuh. Dalam teknologi, mirroring biasanya mengacu pada duplikasi data atau tampilan layar.

Namun dalam kondisi manipulatif Psikologi, seseorang suka memanipulasi bahasa tubuh, sikap atau perilaku orang lain agar seseorang nyaman dan terpengaruh dengan dalih sefrequency.

Beberapa kondisi manipulatif psikologi ini. Oleh guru harus diketahui dan diwaspadai dengan melakukan langkah soft mitigasi, sehingga tidak terjadi ketersinggungan.

Dapat dibayangkan jika kondisi ini tidak dapat dilakukan terapi. maka akan menjadi output pendidikan yang kontraproduktif terhadap tujuan pendidikan. Bahkan menimbulkan kerusakan adab dan moral terhadap peserta pendidikan yang merupakan generasi muda penerus.

Kondisi Manipulatif Psikologi yang dilakukan seorang murid / peserta didik, dampaknya bukan saja sesaat, tetapi berakibat pada masa depan. dan tentunya seorang guru akan merasakan kesedihan jika anak didiknya penuh dengan saat berada di berbagai lingkungan dan diberbagai macam pekerjaan.

Sudah dapat dipastikan segala sikap yang dimanipulasi menumbuhkan sifat manipulatif, yang artinya tidak menjalankan dengan profesional dan hanya kepura puraan.

Perlukah diberikan dalam Pendidikan Kepolisian.

Pada Pendidikan Kepolisian, kondisi tersebut perlu di ketahui dan harus diajarkan, karena Polisi akan menghadapi kondisi Psikologi manipulatif dari berbagai kalangan yang menjadi stage holder Kepolisian.

Dengan mengetahui dan memahami berbagai tipikal manipulasi Psikologi, agar tidak terjebak dan terpengaruh apalagi baper dalam memberikan pelayanan. Meski tidak boleh tebang pilih dan tetap humanis dalam memberikan pelayanan, tentu diperlukan kewaspadaan.

Keterpengaruhan atas manipulasi psikologi dalam pelayanan kepolisian dapat berpengaruh dalam mengambil keputusan, berpengaruh pada komunikasi, bahkan dalam hal penyidikan dapat berpengaruh dalam menentukan tersangka hingga pasal yang dikenakan, demikian juga dengan permasalahan lain lain.

Perkembangan sosial dan menyikapi sikap dan sifat para pelaku pelanggaran dan kejahatan, kondisi ini sering dilibatkan oleh mereka yang ingin melakukan penghindaran atas perbuatan pelanggaran dan kejahatan, agar tidak terjerat sanksi peraturan perundangan.

Begitu pentingnya pemahaman atas manipulasi psikologi, maka pengetahuan ini perlu diberikan ataupun disertakan dalam pendidikan kepolisian Dalam rangka mengikuti perkembangan pengetahuan kekinian dan Menambah hasanah, keluasan dan kedalaman Ilmu Kepolisian.

(STR’90)