Hadiri GAAM of APTA 2025, Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana: Pemolisian Futuristik dan Kepemimpinan Digital di Era Virtual yang Makin Aktual

oleh -223,961 views
oleh

JAKARTA – Dunia yang semakin tar digitalisasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru bagi institusi penegak hukum. Oleh sebab itu Kalemdiklat Polri, Komjen Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si., menyoroti urgensi Pemolisian Futuristik (Futuristic Policing) dan Kepemimpinan Digital (Digital Leadership) sebagai fondasi utama dalam menjaga ketertiban dan keamanan di tengah pergeseran peradaban dari dunia fisik ke dunia maya.

 

Hal tersebut diungkapkan nya saat menghadiri acara 9th GAAM OF APTA 2025 di Gedung Paramartha, Akpol Lemdiklat Polri, pada Rabu (09/07/2025). Pada kesempatan itu, Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana juga menekankan bahwa dunia virtual telah menjadi arena kehidupan yang aktual, menuntut adaptasi fundamental dari aparat kepolisian.

 

” Dunia virtual kini telah menjadi aktual yang maya sudah menjadi nyata. kemudahan dan kecepatan yang di tawarkan oleh sistem jejaring elektronik telah menjadikan kehidupan di balik layar sebagai pusat data, kebijakan, dan informasi. Bahkan, kejahatan pun kini dapat dilakukan dari balik layar, membuat individu yang bekerja di dunia nyata seolah terpinggirkan “, ujarnya.

 

Dikatakan juga oleh Kalemdiklat Polri, bahwa tantangan dan Transformasi di Era Digital telah mengubah lanskap kehidupan secara fundamental, dan menghadirkan kompleksitas yang belum pernah ada sebelumnya.

 

Ia juga memprediksi bahwa benturan peradaban antara konvensional dan digital akan terus terjadi, dan jika tidak diatasi, dapat berujung pada konflik fisik.

 

” Kaum status quo akan mati-matian mempertahankan cara-cara kuno yang lamban, boros, dan berpotensi korup karena ketakutan kehilangan privilese ,” tuturnya.

 

Selanjutnya, Kalemdiklat Polri juga menyoroti bagaimana premanisme birokrasi memanfaatkan celah dalam sistem manual, bahkan merambah ke dunia maya untuk menakut-nakuti, mengancam, hingga menyebarkan fitnah.

 

Mantan Kasespim Lemdiklat Polri itu juga menegaskan bahwa di Era Post-truth, kebohongan dan fakta diolah sedemikian rupa, seringkali dengan bumbu primordialisme, untuk memanipulasi opini publik. Berita bohong, pembodohan, dan penyesatan dapat dilakukan secara masif, berdampak pada salah persepsi, adu domba, hingga konflik sosial.

 

” Ujaran kebencian dan penghakiman yang memalukan seakan menjadi refleksi hipokrit dan pameran ketololan ,” terangnya.

 

Dikatakan pula oleh Komjen Pol. Chryshnanda, Smart Policing adalah Respon Polisi di Era Virtual Dalam menghadapi tantangan ini, dan dirinya juga turut mengusulkan konsep Smart Policing, yang mengintegrasikan conventional, electronic, dan forensic policing. serta dengan Artificial Intelligence (AI) sebagai pilar E-Policing, kepolisian dituntut untuk membangun sistem yang cerdas dan terhubung.

 

” Polisi dalam pemolisiannya kini harus berbasis virtual melalui pilar online dengan sistem elektronik (e-policing) Hal ini mencakup pembangunan Back office sebagai operation room, Aplikasi berbasis AI, Jaringan (Network) berbasis Internet of Things (IoT), Smart management dan smart operation sebagai basis big data system dan one stop service “, bebernya.

 

Diterangkan juga oleh Kalemdiklat Polri. Selain itu diperkuat oleh Polisi Siber (Cyber cops). Hasil kinerja pemolisian futuristik ini akan ditunjukkan melalui algoritma dalam bentuk infografis, statistik, dan informasi virtual, yang berfungsi sebagai alat prediksi, antisipasi, dan solusi.

 

Komjen Pol. Chryshnanda Dwilaksana juga menyoroti Tentang Pentingnya Akuntabilitas Digital dan Kepemimpinan Futuristik serta pentingnya akuntabilitas dalam menegakkan aturan di dunia virtual.

 

” Akuntabilitas ini mencakup aspek moral, hukum, administrasi, fungsional, dan sosial. Sistem bukan tujuan, melainkan sarana mencapai tujuan. Manusia dan kemanusiaan lah yang menjadi fokus utama ,” jelasnya.

 

Jenderal Polisi bintang tiga itu juga menyoroti bahwa pembangunan sistem elektronik seringkali terjebak pada proyek semata, alih-alih fokus pada tujuan pelayanan publik.

 

Dalam konteks kepemimpinan, Digital Leadership (DL) menjadi sangat krusial. Seorang pemimpin di era digital harus mampu membangun aplikasi berbasis AI untuk mengenali, memetakan, menganalisis, dan menghasilkan produk dalam bentuk algoritma yang dapat diakses secara real time, on time, dan any time.

 

” Ini termasuk kemampuan untuk mengembangkan intelijen, emergency dan contingency policing, serta quick response. Dan Pemimpin digital harus mampu menyiapkan SDM yang profesional, cerdas, bermoral, dan modern, siap menangani hoaks, serangan buzzer, kejahatan siber ideologis, perang proxy, hingga melindungi aset bangsa dan menjamin keamanan warga negara ,” pungkasnya.

 

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa Futuristic Policing dan Digital Leadership bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan bahwa Indonesia tidak tertinggal dalam menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity).

 

” Kepolisian harus hadir sebagai institusi yang adaptif, modern, dan solutif dalam menjaga keamanan serta kedaulatan bangsa di tengah arus perubahan digital yang pesat “, tutupnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.