McNamara Fallacy dan Pemolisian

oleh -9 views
oleh

JAKARTA – Masih hangat dan mungkin bisa ditemukan dalam media sosial tentang diskusi (Atau mungkin bisa dikatakan debat) antara mahasiswa dengan salah satu pejabat dalam sebuah acara televisi.

yang menarik perhatian adalah ketika debat dimintakan penggunaan data sebagai pendukung diskusi agar tidak terkesan hanya sekedar narasi, yang membutuhkan angka angka kuantitatif Valid sebagai sebuah kebenaran. Sementara realita di lapangan yang bersifat kualitatif dianggap tidak Valid.

Kita tidak memperpanjang perdebatan tersebut, kita akan mencoba menghubungkannya dengan konsep Pemolisian. Pada sebuah Pemolisian, data berupa angka memang diperlukan namun tidak boleh mengabaikan realita lapangan. Kondisi keamanan dan ketertiban Masyarakat tidak dapat disimpulkan sebuah situasi dikatakan aman dan memberi rasa aman hanya berdasarkan jumlah kejadian kejahatan dan pelanggaran, ataupun jumlah FKK, PH, dan AF, karena rasa aman itu hanya bisa di rasakan.

Ada sebuah konsep berpikir yang di sebut dengan McNamara Fallacy.
McNamara Fallacy adalah kekeliruan dalam berpikir dan mengambil keputusan yang terjadi ketika seseorang atau organisasi terlalu mengandalkan data yang dapat diukur (Quantitative metric), namun mengabaikan faktor-faktor penting yang sulit diukur, seperti perasaan aman, nyaman, nilai, moral, budaya, kondisi psikologi, motivasi, ataupun dinamika sosial yang terjadi dalam sebuah lingkungan Sosial.

Dalam beberapa literasi nama Robert S McNamara dikenal sebagai tokoh yang menggunakan pendekatan ini, yaitu mengedepankan analitis dan statistik secara intensif, terutama pada masa Perang Vietnam. Istilah McNamara Fallacy kemudian dipopulerkan oleh penulis Daniel Yankelovich untuk mengkritik cara berpikir yang terlalu berorientasi pada angka.

Empat Tahapan McNamara Fallacy

Dalam tulisannya Yankelovich menggambarkan kekeliruan ini dalam empat tahap:

1. Mengukur apa yang mudah diukur. Langkah ini wajar dan diperlukan.

2. Mengabaikan apa yang sulit diukur atau memberi nilai yang sewenang-wenang terhadapnya. Misalnya kepercayaan masyarakat, loyalitas, atau semangat kerja.

3. Menganggap bahwa apa yang tidak dapat diukur sebenarnya tidak penting. Di sinilah mulai terjadi kesalahan berpikir.

4. Menyimpulkan bahwa apa yang tidak dapat diukur sebenarnya tidak ada. Ini merupakan bentuk kekeliruan paling serius.

Dalam Konteks Pemolisian konsep McNamara Fallacy yang menerapkan keberhasilan kepolisian hanya dinilai dari:

1. Jumlah kasus yang diselesaikan.
2. Jumlah penangkapan.
3. Jumlah tersangka atau pelaku.
4. Jumlah patroli.
5. jumlah tilang dan sebagainya(Yang bersifat kuantitatif).

Sementara keberhasilan kepolisian juga ditentukan oleh hal hal yang bersifat kualitatif, seperti :

1. Tngkat kepercayaan masyarakat.
2. Rasa aman warga.
3. Legitimasi institusi,
4. Kualitas hubungan polisi dengan masyarakat.
5. Keberhasilan pencegahan kejahatan.
6. Kepuasan pelayanan publik.

Aspek- aspek tersebut di atas sulit diukur secara langsung, tetapi sangat menentukan efektivitas pelaksanaan tugas kepolisian dan evaluasinya. Hal ini dapat menimbulkan fatalitas Pelaksanaan tugas Kepolisian dan salah persepsi dalam menilai situasi, karena yang terbangun adalah simpulan keamanan semu yang hanya berdasarkan data berupa angka namun tidak mendapatkan / menemukan rasa keamanan yang sebenarnya.

Demikian juga jika konsep ini diterapkan dalam Pendidikan. Jika kualitas pendidikan hanya diukur berdasarkan:

1. IPK.
2. Nilai ujian.
3. Jumlah lulusan.
4. Lama studi.

maka aspek penting yang seharusnya diperoleh capaian Pembelajaran lulusannya (CPL) justru dapat terabaikan, seperti:

1. Integritas.
2. Kepemimpinan.
3. Kreativitas.
4. Kemampuan berpikir kritis.
5. Karakter.
6. Kemampuan kolaborasi.

Akibatnya, lembaga pendidikan mungkin menghasilkan lulusan dengan nilai akademik yang tinggi tetapi belum tentu memiliki kompetensi profesional dan etika serta adab yang baik.

Pembenahan Sumber daya manusia kepolisian melalui pendidikan diharapkan bukan hanya menghasilkan polisi yang hanya sekedar Pandai, namun lebih dari itu keutamaan Moral dalam pendidikan adalah untuk Melahirkan Calon Polisi yang beradab dan Profesional.

Penerapan McNamara Fallacy secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, terutama ketika organisasi hanya berfokus pada indikator yang dapat diukur dan mengabaikan faktor-faktor yang sulit diukur tetapi sangat menentukan keberhasilan.

Keputusan menjadi sempit dan bias. Pengambil keputusan hanya memperhatikan data statistik, sementara mengabaikan konteks sosial, budaya, psikologis masyarakat

Contoh: Penurunan angka kriminalitas belum tentu berarti masyarakat merasa lebih aman.

Muncul “ilusi keberhasilan” Organisasi terlihat berhasil berdasarkan angka, padahal kondisi sebenarnya belum tentu membaik, sebagai contoh Target penangkapan tercapai. Target patroli terpenuhi. Jumlah perkara selesai meningkat. Namun Kepercayaan masyarakat menurun, Rasa aman masyarakat tidak meningkat, Konflik sosial masih tinggi.

Mendorong perilaku mengejar angka (Gaming The matriks)

Ketika indikator kuantitatif menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, individu atau organisasi dapat terdorong untuk mengejar angka tanpa meningkatkan kualitas. Misalnya mengejar jumlah kegiatan daripada dampaknya, mengejar jumlah laporan selesai daripada kualitas penyelesaian,
memilih target yang mudah dicapai agar indikator terlihat baik.

Menghambat inovasi. Inovasi sering menghasilkan manfaat jangka panjang yang belum langsung tampak dalam angka. Jika semua keputusan harus segera menunjukkan indikator kuantitatif, maka inovasi menjadi kurang dihargai.

Gagal mendeteksi ancaman yang sedang tumbuh.

Dalam intelijen dan manajemen risiko, banyak ancaman muncul sebagai weak signals (sinyal lemah) yang belum tercermin dalam statistik (kuantitatif). Seperti meningkatnya radikalisasi, disinformasi, polarisasi masyarakat, hilangnya kepercayaan publik. Jika hanya melihat data historis, ancaman tersebut bisa terlewat.

Salah menetapkan kebijakan
Kebijakan yang hanya berdasarkan data numerik dapat gagal menyelesaikan akar masalah. Misalnya: menambah patroli tanpa memahami penyebab konflik, memperbanyak operasi tanpa memperbaiki hubungan dengan masyarakat.

Menurunkan kualitas pelayanan publik
Pelayanan menjadi berorientasi pada target administratif daripada kebutuhan masyarakat. Akibatnya: pelayanan menjadi formalitas, kepuasan masyarakat menurun, kepercayaan terhadap institusi berkurang.

Berdampak negatif bagi kepolisian
Dalam organisasi kepolisian, McNamara Fallacy dapat menyebabkan fokus yang berlebihan pada indikator seperti jumlah penangkapan, jumlah tilang, jumlah patroli, jumlah perkara selesai. Sementara keberhasilan kepolisian juga ditentukan oleh: legitimasi institusi,kepercayaan masyarakat, keberhasilan pencegahan kejahatan, penyelesaian konflik secara damai, rasa aman masyarakat.

Akibatnya, polisi dapat terlihat “berhasil” menurut statistik, tetapi belum tentu berhasil menciptakan keamanan dan rasa aman yang berkelanjutan.

ARTIKEL TULISAN KARYA: (Str’90)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.