Mbuh Singkat Jelas Padat Selesai di Tempat

oleh -595,909 views
oleh

JAKARTA – Negara hukum pembuktian secara transparan dan akuntabel merupakan suatu wujud peradabannya.

Tatkala terjadi berbagai penyimpangan, pelanggaran hukum bahkan premanisme diselesaikan dengan jawaban, ” Mbuh(Entah ya) ” atau mencari kambing hitam dengan meng kambingkan OTK (Orang Tak Dikenal).

Kalau dalam tik tok ada suara backing vocal yang menjadi latar dengan kata kata. ini parah hehehe dengan logat bego tetapi bisa mengatakan ini parah.

Premanisme bisa orang bisa kelompok yang andalannya anarkisme. Berbagai bentuk kekerasan ujungnya pada kejahatan. Menjadi parah tatkala kantor atau aparat sudah menjawab dengan absurd.

Tentu saja kaum penunggang jaran kepalakan di era post truth memanfaatkan media. Dengan otak Atik gathuknya dengan bumbu provokasi saling tuding dengan pembenaran masing masing.

Koclok nya besok berulang lagi dan berulang lagi dianggap biasa dan kenakalan anak anak di bawah.

Keledai yang dianggap paling dungu tidak akan terantuk pada lubang yang sama. Lah ini dalam masyarakat modern dan demokratis kok bola bali dibaleni lagi, lagi cukup minta maaf makan bersama dan berbagai seremonial kebersamaan lainnya.

Kalau punya malu dan harga diri pasti akan ada introspeksi dan mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Sumber daya manusia (SDM) senantiasa digembar gemborkan sebagai aset utama bangsa, apakah benar yang dikatakan demikian?

Kalau benar maka tidak akan jadi jaran keplakan dijadikan tunggangan untuk saling keplak kepalak atau dikeplaki.

Menurut platon seperti yang ditulis Dr Setyo. ” Rakyat bagai big animal and beast. Yang hanya mencari kesenangan dan menjauhi hal hal yg tidak disukainya.

Para kaum sofis ini memahami dan mampu memanfaatkan serta mengendalikannya. Kapan menyenang menyenangkan, kapan mengalah, kapan memaksanya bahkan mengancamnya.

Binatang besar dan kasar tadi tentu pekok dan dapat dijadikan jaran keplakan dan tunggangannya. Besar kuat makan banyak namun bodoh.

Mudah dibakar emosinya. Mudah diadu domba. Mudah ditipu daya. Dan sebagainya.

Semua itu akibat daya nalar atau logika yg cupet. Primordialisme bgt diagung agungkan bahkan disakralkan.

Spirit pokok e dengan pekok enya yg saling dupak dupakan, pithes pithesan saling menjatuhkan. Model balung kere.

Seperti kisah burung manyar dan monyet yang saling serang. Kisah raja gila pakaian karya HC anderson bisa dijadikan acuan.

Apa yang diajarkan bagi penyiapan dan regenerasi sdm mash ada, model karbitan, KKN, pendekatan personal yang mengabaikan kompetensi.

Model palak memalak, gaya feodal, membangun klik dan core value yang bertentangan dari yg ideal. Jabatan kekuasaan yang dilabel basah di dewa dewakan, sebaliknya yang dilabel kering dianggap bagian air mata.

Tanpa sadar intinya inti bukan pada keutamaan melainkan bagaimana bisa memperoleh wahyu keprabon atau mendapatkan budi dari kepiawaiannya mengelola sumber daya sebagai buluh bekti gelondong pangareng areng.

Bisa dibayangkan kalau meregenerasi bagi calon ndoronya yang status dan stratifikasi sosial muncul gaya preman maka materi duniawi yang dianggap prestasi. Konteks inilah yang membuat captive mind “Wani Piro Oleh Piro”.

Semua ini dilakukan bukan karena kebodohannya atau kelalaiannya tetapi terstruktur yang mengutamakan kelihaiannya yang sarat akal akalan.

Bisa dibayangkan kualitas moral yg naif semua serba pamrih. Bener durung tentu pener. Bener yen ora umum iku salah, salah yen wis umum dadi bener. Siap grak! Hadap kanan grak! Satu hadap kanan 99 hadap kiri. Siapa yang gila ?

IQ, EQ dan SQ yang seringkali menjadi acuan standar SDM bisa saja baik namun tatkala menghadapi kenyataan idealismenya tak lagi kuat, luntur menguap di mana lingkungan tidak mendukung.

Banyak yang memilih menjadi safety player. Ada yang hanyut, bahkan malah malah ikut mempelopori.

Parahnya lagi tatkala kaum ningrat politik, akademisi maupun birokrat hingga masyarakat tatkala sudah luntur keutamaannya diam mencari selamat sendiri sendiri, ini menunjukkan silent suicide juga adanya bom waktu yang menunggu kapan meledaknya.

Kembali pada konteks analogi platon tentang big animal and beast rasa rasanya ya oke pendapat yang sudah ribuan tahun berlalu masih berlaku.

Analogi jaran keplak kan bisa saja digunakan tatkala SDM tak lagi memiliki keutamaan. Tambah lagi kaum ningratnya menjadi juru keplak nya.

Di sini bingung di sana untung, Bisa dibayangkan tatkala kaum jaran keplakkan merajalela dan berkuasa, apakah semua langkah menunggu di keplaki ? Semoga tidak.

 

Artikel Karya Kalemdiklat Polri Komjen Pol Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.