Banda Aceh — Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari keluarga besar Polri di Aceh. Aipda Jonni Rahmad, personel Polres Pidie Jaya, Polda Aceh, telah berpulang. Almarhum mengembuskan napas terakhir pada Rabu, 7 Oktober 2026, sekitar pukul 01.30 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh.
Aipda Jonni meninggal dunia setelah menjalani perawatan dengan diagnosis tumor mediastinum. Kepergian Aipda Jonni meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan sejawat, serta masyarakat yang pernah merasakan langsung kepeduliannya. Ia merupakan sosok polisi yang dikenal luas karena aksi sosial dan kepeduliannya kepada masyarakat.
Jonni meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, terdiri atas tiga putra dan satu putri. Di tengah keluarga yang ditinggalkan, ia bukan hanya seorang suami dan ayah, tetapi juga sosok yang selama ini dikenal memiliki kepedulian besar terhadap sesama.
Semasa hidupnya, Aipda Jonni Rahmad menunjukkan bahwa pengabdian seorang polisi tidak selalu hadir dalam bentuk tugas-tugas kedinasan. Ia memilih memperluas makna pengabdian itu melalui tindakan sederhana: membantu mereka yang membutuhkan, menyisihkan sebagian rezeki, dan hadir ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Pada Agustus 2026 lalu, kisah pengabdiannya sempat diberitakan setelah diketahui bahwa Jonni telah membangun empat rumah untuk keluarga fakir miskin dan merehabilitasi tiga rumah lainnya. Sebagian biaya pembangunan dan perbaikan rumah tersebut ia sisihkan dari penghasilannya sebagai anggota Polri.
Rumah-rumah itu mungkin tidak berdiri megah. Namun, bagi keluarga yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan, bangunan sederhana tersebut menjadi tempat berlindung sekaligus menghadirkan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.
Kepedulian Jonni juga terlihat dalam berbagai aksi sosial lainnya. Ketika banjir melanda sejumlah wilayah pada akhir 2025, ia mendatangi anak-anak terdampak dengan membawa Iqra dan Al-Qur’an. Ia ingin memastikan bencana tidak membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk tetap belajar dan mengaji.
Menjelang Idulfitri, Jonni juga menyisihkan sebagian rezekinya untuk membelikan pakaian bagi anak-anak yatim piatu. Ia pernah membantu seorang anak yang menderita kebocoran jantung agar dapat menjalani pengobatan hingga ke Jakarta.
Bagi Jonni, membantu sesama bukan perkara seberapa besar yang dimiliki. Yang terpenting adalah kemauan untuk berbagi dan hadir bagi mereka yang sedang membutuhkan.
Kini, suara dan langkah Aipda Jonni telah berhenti. Namun, rumah-rumah yang ia bangun, keluarga yang pernah ia bantu, anak-anak yang pernah ia bahagiakan, serta orang-orang yang pernah merasakan kepeduliannya menjadi bagian dari jejak pengabdian yang ditinggalkannya.
Selamat jalan, Aipda Jonni Rahmad. Pengabdianmu telah selesai, tetapi kebaikan yang telah engkau tanam akan terus dikenang. Semoga segala kebaikan itu menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah engkau tiada.







